CARA PERKAWINAN DAN JENIS MAS KAWIN DALAM PERNIKAHAN ADAT NAGEKEO

Dalam hubungan perkwaninan orang Nagekeo mengenal dua istilah

1.      Embu Mame : pihak penyedia anak wanita

2.      Ine weta :  pihak menyedia anak laki

Anak laki dari pihak ine weta boleh menikahi wanita dari.  Kalau terjadi terbalik dianggap salah jalan (rada sada). Malah dalam beberapa hubungan disebut pile (pemali).

Dalam masyarakat adat Nagekeo khusus yang Muslim masih menjaga pernikahan dalam hubungan yang sangat dekat. Anak laki dari saudari menikahi anak wanita dari saudaranya. Orang tua masih bersaudara kandung.  Akhir-akhir ini orang Nagekeo yang tidak menjalin hubungan perkawinan antara anak dengan orang tua bersaudara sekandung atas himbauan gereja dengan alasan permasalahan genetik.

Pernikahan antara anak-anak dalam suku atau keluarga besar memiliki alasan tertentu. Bagi orang Nagekeo menikahi dengan mengambil orang dalam keluarga (mada wado ko’o weki) artinya mengambil dan menjaga sesama anggota keluarga. Selain itu karena dalam hubungan perkawinan orang mengenal dengan saling menghargai dan saling memberi, maka sebaiknya pemberian itu tidak untuk orang lain (ngawu ma’e tau ti’i ata).

Cara Mengikat Hubungan  Perkawinan

1.      Nai Sa’o Tika Tenda
Pada proses perkenalannya seorang anak laki memasuki rumah keluarga wanita, sering datang ke rumah atau bahkan tinggal di rumah kemudian bekerja di rumah calon mertua.

2.       Iki Teki Tosi, Jata Dhenda Mendi:
Sang lelaki tidak masuk dan bekerja di rumah mertua bahkan tidak/belum pernah masuk rumah. Ada hubungan dan perkenalan antara anak laki dan wanita. Secara terencana seorang wanita berada di luar rumah, anak laki atau wakilnya membawa  lari anak wanita dengan kuda langsung ke rumah keluarga lelaki. Sesudahnya pihak keluarga lelaki akan datang ke keluarga  wanita menyampaikan pinangan  secara resmi.

3.       Mbe’o Me’a, Nggesu Nggomi (proses sederhana dianggap hanya berdua yang tahu).

A.    Nai Sa’o TikaTenda: Adalah mendapatkan isteri dengan cara meminang secara resmi.

Pernikahan jenis ini selalu mulai dengan tahapan seorang anak laki mendatangi dan berkenalan dengan keluarga. Dia mulai dengan keluar masuk rumah, dan juga ikut bekerja dan membantu orang tua wanita (kema ghawo. Teki dhoi, o’o do rewo tembo).
Jenis belis:

a.       Peu Longo Langga (:longo ha langga ( 1 kambing), wea ha diwu (2 pasang hiasan emas), manu ha dadu (seekor ayan jago), tua adu rua (moke dua ruas bamboo).

b.      Tei ula: (Kamba ha eko (1 kerbau), Jara ha eko (1 kuda), wea ha diwun ( 2 sang hiasan emas),topo ula tedu (3 parang adat)

c.        Mbe’o Sa’o: kamba ha eko (1 kerbau ), we ha diwu (2 pasang hiasan emas), topo ha ula (1 parang adat)

d.      Weki Mere Jangga Dewa:  sebagai pengakuan kedewasaan (weki mere, jangga dewa) juga meresmikan pernikahan dengan memberikan tikar (ti’I te’e pati dani): kamba ha eko (1 kerbau), jara ha eko  (1 kuda), wea ha diwu (2 pasang hiasan emas), topo ha ula (satu parang adat)

e.       Jara Saka: Kuda tunggang untuk sang aya (jara saka utu ta bapa), jara ha eko (satu kuda jantan).

f.       Kudhu Kete:  Kompensasi bagi sang ibu., kamba ha eko (1 kerbau), wea ha diwu (emas 2 pasang)

g.      Pusi Mbele: Untuk ayah pengantin wanita, kamba ha eko ( 1kerbau)

h.      Tuka Uma Mata Ae: Inilah belis yang diminta oleh pihak keluarga wanita (ndoi). Terserah dari pihak keluarga wanita. Biasanya dalam jumlah yang ganjil. (tiga, lim tujuh). Kamba, jara, wea, longo, topo dalam jumlah ganjil itu. Masing masing tiga, lima atau tujuh.  Tuka uma mata ae juga diartikan bahwa  masih ada penghasilan atau penerimaan tambahan  kapan saja bila perlu (tuka uma=kebun, mata ae= mata air ).

B.     Iki Teki Tosi, Jata Dhenda  Mendi:

Pernikahan macam ini  dilakukan oleh mereka yang memiliki kemampuan lebih (ta ne’e nene). Pihak laki-laki tidak melakukan penghormatan khusus, enggan masuk rumah dan bekerja di rumah calon mertua.  Ini umum berlaku pada keluarga laki yang berpunya atau dalam istilah bahasa daerah : ata ane’e nene. Sira ta sue tasa, wea wonga (yang punya gading dan emas).  Imu ko’o ta nggedhe ngonggo kema ghawo, teki dhoi,  o’o do rewo tembo. (mereka yang tidak ingin bekerja, menjinjing dan memikul, atau berhamba pada keluarga wanita).

Belisnya selain belis yang umum, juga dikenakan jenis mas kawin dengan istilah:

a.       Aka wada kasa, dui tuka dima : denda atas perlakuan kasar mengambil anaknya (dui atau langgi lenda pu’u ena tuka dima wada kasa ine dhadhi ne’e bapa mesa).

b.       Kungu puku, jena sera : Mosa ha eko, we ha diwu

c.       Ndadho Sa’o, Ndhdha Tenda, ini sudah termasuk mbe’o. Ini yang bisa dikenakan cara ndoi (permintaan dari pihak wanita)., yang umumnya dikenakan dengan angka ganjil 3, 5 atau 7.  

d.      Weki Mere Jangga Dewa: belisnya sama seperti pada cara ‘nai sa’o tiko tenda.

Pada pernikahan ini wanita biasa sudah diatur melalui seorang perantara. Ketika berada di jalan di luar kampung sang pemuda langsung menjemput dan melarikannya dengan kuda ( dhenda mendi atau ndadho).

C.     Mbe’o Me’a, Nggesu  Nggomi  adalah pernikahan melalui jalan pintas. Ini dianggap sebuah pernikahan yang hanya diketahui  pasangan saja (mbe’o me’a). Seorang lelaki mendatangi rumah sang wanita dan kemudian hidup bersama sepengetahuan orang tua wanita.  Pernikahan cara ini semakin popular saat ini, sebagai satu cara menghindari hukum adat perkawinan yang rumit dan memakan biaya.  Sejak orang nagekeo mengenal  Gereja Katolik, perkawinan ini sebut dengan kawin kampung. Sebuah pernikahan yang belum disahkan secara agama.  Sebaliknya bagi keluarga nagekeo yang beragama islam,  mereka tidak melakukan pernikahan cara ini. Mengingat hampir semua pernikahan islam di Nagekeo tidak menuntut belis (atau mas kawin).  Karena hukum agama, mereka selalu meresmikan pernikahan secara agama, dengan cara sederahana sesuai dengan keadaannya.

Cara ini  tidak menuntut belis (mas kawin) yang banyak.  Pemberian mas kawin sebagai bukti dukungan orang tua pihak laki-laki  atau dalam bahasa daerah disebut dengan ‘pela nia pa ngara ‘(tunjuk muka dan memperkenalkan keluarga). Biasanya dilakukan pada saat wanita sudah hamil atau bahkan sudah punya anak. Tunggu saat yang baik bagi keluarga laki.

Belisnya hanya diberikan

a.       Jara pa nia (seekor kuda sebagai tanda perkenalan dan kehadiran orang tua).

b.      Weki mere jangga dewa penghargaan atas orang tua yang telah membesarkan sampai  bertumbuh besar dan tinggi (weki mere, jangga dewa).  Penghargaan untuk Ine Dhadhi, bapa mesu (ibu yang melahirkan dan bapa yang mengasihi).

c.       Penghargaan kepada embu mame (paman).  Orang Nagekeo selalu menempatkan paman (saudara ibu pengantin wanita) sebagai ranking atas (ape wawo). Setiap upacara adat selalu mendapat penghormatan istimewa.

Secara umum proses perkawinan adat memiliki 5 tahap:

1.       Meminang atau masuk minta atau juga disebut  peo longo langga.

2.       Mendi Ngawu: Keluarga lelaki datang membawa belis (mas kawin) dan sekalian membawa pulang anak wanita.

3.       Tii Tee Pati Dani  (pemberian tikar bantal): Adalah saat resmi keluarga wanita memberi ijin kepada lelaki untuk menikahi anaknya.

4.       Nuka Sa’o: Pengantin wanita bersama rombongan keluarga lelaki berangkat menuju rumah orang tua keluarga lelaki.

5.       Rengga Da’e:  Setelah seminggu pengantin wanita berada di rumah keluarga pengantin lelaki, pasangan akan datang kembali menengok rumah orang tua wanita.

Sundo Bhando

Setiap pemberian dalam upacara adat Nagekeo selalu menuntut imbalan balasan yang setimpal. Karena itu apa saja kebaikan yang diterima merupakan sebuah hutang yang perlu dibayar. Membalas kebaikan kepada si pemberi barang disebut sundo bhando.

Budaya sundo bhando  sebenarnya sama saja di  setiap daerah di Indonesia. Dalam budaya Nagekeo setiap pemberian dalam upacara adat termasuk pernikahan, berupa hewan ternak, atau kain sarung  akan selalu diingat baik oleh si pemberi dan juga penerima. Pemberian sundo bhando  pada acara pernikahan adat disesuaikan dengan apa yang diterima oleh pihak pengantin wanita.  Pihak pengantin lelaki membawa barang-barang berupa,emas, parang adat,  kerbau, kuda, kambing  sesuai dengan tuntutan adatnya.  Sudah ada ketentuan-ketentuan adat yang berlaku standar untuk sebuah pemberian yang layak. Pemberian dari pihak pengantin pria ditentukan oleh pihak pengantin wanita sebagai penerima.  Jumlahnya pun sudah ditentukan sesuai dengan kebutuhannya. Membalas pemberian dari pihak lelaki dilakukan oleh keluarga pengantin wanita.

Jenis pemberian sundo bhando  biasanya berupa babi besar (wawi mere), kain sarung adat (duka dawo), baju  atau kain baju wanita , tikar bantal(te’e dani) serta beras (pale). Jumlah barang biasa mengimbangi semua pemberian pihak laki.  Sundo bhando merupakan pemberian saling menghargai.  Dengan adanya saling memberi yang seimbang, maka   belis atau mas kawin  tidak dianggap sebagai  alat untuk membeli wanita yang  dijadikan isteri.

About these ads

About atanagekeo

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in ADAT & BUDAYA. Bookmark the permalink.

3 Responses to CARA PERKAWINAN DAN JENIS MAS KAWIN DALAM PERNIKAHAN ADAT NAGEKEO

  1. Pingback: Sail Komodo – NTT 2013 | Ini Kebudayaan Kabupaten Nagekeo Provinsi Nusa Tenggara Timur (2)

  2. selestinus says:

    mat siang… tolong bantu ngao( untuk tahap-tahap perkawinan adat keo dan paham dosa menurut adat keo

  3. selestinus says:

    ngao asli dari kelimali…. n tolong utk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s