Dalam berbagai peristiwa aku menemukan laku sesamaku mencerminkan wujud imannya. Iman muncul dalam tindakan. Iman itu nyata. Iman itu hidup. Ketika mereka melakukan itu di hadapan wajahku, aku melihat dan mecermati diriku sendiri. Dalam perbandingan itu aku sungguh berkaca dan menemukan wajahku sendiri.
Ketika masih bujang seorang anak gadis kecil berusia 7 tahun , dia adalah adik dari calon isteriku menginap di rumah petak sewaan. Di ruang tidur ada satu tempat tidur kayu untuk ku dan sebuah tempat tidur lipat (folding bed), yang ku peroleh dari teman saya Otto Gaut SH ketika dia berpindah rumah. Dan tamu kecilku tidur di tempat tidur lipat. Ketika akan tidur, adik kecil tadi duduk dengan kedua kaki menyentuh lantai tanah, mengatupkan tangan, membuat tanda salib dan berdoa dalam keheningan. Dalam keadaan tertegun saya sadar diri, selama ini saya tidak lagi berdoa sebelum tidur. Dan saya pun melakukan serupa dan berdoa singkat dalam caraku.
Seorang teman kelas saya Dominikus Timu Pera sempat datang ke rumah pada malam hari. Malam itu disuguhkan minum tanpa kue. Sebelum minum dia mengingatkan saya akan kebiasaan di Flores. Dia sedikit menutup mata kemudian membuat tanda salib, lalu minum. Dari ceritanya saya tahu bahwa dia banyak berbuat bagi lingkungan orang-orang seimannya.
Orang Flores melakukan tanda salib pada saat mau mandi, naik pohon , pada saat akan makan dan minum. Kami selalu membuat tanda salib ketika akan menapak masuk ke laut untuk berenang. Atau ketika kami akan terjun dari perahu ke laut pertama kali. Hanya terkadang orang Flores juga tetap membuat tanda salib (doa) pada saat naik pohon padahal itu bukan pohon kelapa miliknya, dan dia memanjat tanpa izin pemilik . Dia sedang curi kelapa.
Kemarin saya bertemu seorang dari Nagekeo, yang saya jumpai setelah melakukan komunikasi via fesbuk (facebook). Fesbuk telah membuat saya menjalin pertemanan melalui dunia maya. Dan ada yang melakukan temu muka dan tukar pandangan di ruang nyata. Dalam pertemuan ini teman saya bercerita macam-macam tentang kegiatannya. Demikian juga saya pasti punya cerita. Ada yang membuat saya terpanah memandang diri dalam cermin imannya.
Sebuah ungkapan yang saya tahu tetapi sampai menjadi ungkapan iman hidup sungguh mengagumkan. “kami orang Flores, kudus, katolik dan apostolik, jangan macam-macam”. Ini ungkapannya ketika bercerita tentang godaan wanita cantik yang ingin memberi dirinya demi mendapatkan sesuatu darinya. Kali ini cermin wajahku menjadi lebih besar dan jelas, aku merasa sungguh berkaca dalam wajah buruk mukaku. Aku Katolik, tetapi tidak terlalu apostolic dan jelas benderang pasti tidak kudus.
Recent Comments