Awalnya saya sangat alergi memiliki akun facebook. Tetapi isteri saya yang setia jadi ibu di rumah punya akun facebook yang dibuat dengan bantuan anaknya. Karena kode rahasia umum maka saya bisa membukanya. Satu kali saya melihat foto makam kakak Niko Muta di Nagaroro. Saya terharu dan memberi komentar pakai bahasa daerah, ‘tei late kae Niko, Tali’. Ketika isteri buka akun facebooknya melihat itu dan heran bercampur keberatan. Saya lalu membuat akun sendiri.
Dengan sedikit malu-malu, saya tidak memasang foto pribadi. Pada satu kesempatan saya berkomunikasi dengan Agapitus dan Jose Jua pada saat bersamaan. Agapitus minta saya pasang foto. Dan setelah tunggu beberapa hari akhirnya dipasang foto saya. Saya tertarik dengan percakapan dan sharing pendapat bertiga malam itu. Kris Bheda juga menguatkan saya facebook menjadi wadah yang baik buat diskusi. Kebenarannya kemudian menyemangatiku dan membawa hiburan tersendiri. Saya bisa bertemu dengan banyak orang.
Menjalin hubungan dengan para sahabat facebook pertama aku memilih orang sendiri. Dari nama-nama pemilik akun bisa direka-reka daerah asal. Dan dari sahabat mereka bisa diidentifikasi hubungan keluarga atau asal wilayahnya. Kini saya bisa berhubungan dengan sejumlah anak-anak muda asal kampung kami Mauromba dari Merauke sampai Aceh. Bagi yang belum pernah kenal saya awali dengan kirim pesan, ‘mae ngasi te puu emba, jao tali ata lomba. Bhide koo koka kita weta weki’. Facebook telah menjadi a’i rada (perantara) paling handal untuk kita saling mengenal.
facebookkan memang mengasikkan
By: Aliyah on October 21, 2011
at 2:12 pm