APA YANG BURUK DENGAN POLITIK?

Sejumlah anggota  Dewan Perwakilan Rakyat di Papua telah menjadi tersangka. Sebelumnya sudah ada beberapa  Gubernur, Bupati dan tidak sedikit anggota Dewan di negeri ini yang tersandung dan bahkan masuk bui. Mereka adalah orang-orang partai politik. Mereka adalah orang yang menjadi kekuatan pilar demokrasi alias Partai Politik.

Saya sebentar menonton  Bapak M. Jusuf Kalla, mantan Wakil Presiden Negara Kesatuan Republik Indonesia dalam Managing The Nation with Tanri Abeng  pada hari Kamis malam, tanggal 11 Agustus 2011.  Semboyan Bapak JK yang masih terus diingat “Lebih Cepat Lebih Baik.”  Dan kini kita sedang berada dalam kebudayaan “Biar lambat asal selamat.” Semua serba hati-hati. Tidak ada perintah. Sebahagian orang mengeritiknya sebagai masa kepemimpinan tanpa ketegasan. Tidak ada perintah pemimpin. Karena itu kita sering mendengar kata ” Saya prihatin dengan keadaan…” Saya mengharapkan, Saya minta dll  ketimbang “kami tegaskan” atau kami perintahkan.  Semuanya berjalan biasa, mengalir seperti air  dan tidak dirasa kehadiran seorang pemimpin bangsa. Seorang pemimpin tidak selalu hadir dengan berkali-kali muncul untuk sebuah statement murahan. Soerang pemimpin bisa dirasa kehadiran melalui berjalannya sebuah system. Mungkin kontradiktif karena kehadiran seorang pemimpin besar justru pada saat dia tidak hadir. Dia tidak muncul, dia diam tetapi dia memimpin dan memerintah.

Kita terus menyaksikan drama penangkapan seorang buronan yang bernama M. Nazaruddin di Cartagena, Kolumbia. Dia yang gagah dan terus bersuara lantang akhirnya dibekuk dan melangkah dengan muka tertunduk sementara  kedua tangan terikat borgol. Suara orang banyak minta Nazaruddin kembali ke tanah air tidak diindahkan. Kalau dia benar mengapa takut? Dan akhirnya Nazaruddin harus dikuk di tangannya.  Dan terbayang kalau nanti dua wanita lainnya yaitu Nunun dan Neneng mengalami nasib serupa. Kalau saja Nunun terus berlari, maka yang pasti dia tidak akan pernah berlari dari kematian. Apakah itu cara terbaik seorang melarikan diri sampai maut menjemputnya? Kalau saja Nunun tertangkap, maka kita juga akan menyaksikan adegang borgol polisi asing  dipasang paksa pada tangan  wanita Indonesia. Yang kita tunggu siapa wanita Indonesia pertama yang akan dipasang paksa borgol di tangan?  Nunu atau Neneng?

Yang menarik bagi saya adalah Nazaruddin, Nunun dan juga Neneng mempunyai kaitan dengan uang. Dan Nazaruddin, Nunun dan Neneng ada kaitan dengan para tokoh politik. Ada apa dengan politik? Burukkah berpolitik. Jawaban Jusuf Kalla sungguh bertuah. Berpolitik itu baik. Berdagang juga baik. Tetapi yang buruk adalah memperdagangkan politik. Dan ketiga tokoh ini terseret karena memperdagangkan politik. Semua bisa terjadi karena budaya politik Indonesia adalah politik transaktional, politik yang bisa dibeli dengan uang ( money politic).

About these ads

About atanagekeo

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Politik and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s