DEWI PERSIK DAN OBRAL ALAT KELAMIN

Hari-hari terakhir ini begitu banyak kali  televisi menyiarkan tentang operasi payudara seorang wanita, tersangka kasus kejahatan  perbankan bernama Malinda. Lalu wartawan terus mengorek orang-orang yang melakukan operasi serupa. Selain operasi payudara ada juga yang melakukan operasi selaput dara. Dan Dewi Persik berkoar tanpa risih di hadapan publik bahwa dia telah melakukan operasi selaput dara.

Banyak komentar kotor di internet. “Kalau saya menilai dia kan belum punya anak jadi apa lagi yang mau dikecilin (vaginanya).Kalaupun mau disambungin lagi selaput daranya lagi agar berdarah buat apa? Toh kan semua orang juga sudah tahu kalau dia sudah pernah menikah. Jadi buat apa? Hanya buang-buang uang saja” demikian kata dr. Boyke (C/R Yahoo 7/6/11)

Esa adalah kata yang digunakan untuk menyebut angka satu. Dalam bahasa Nagekeo bila menghitung akan dimulai dengan esa, rua, tedu ( 1,2,3).  Esa juga merupakan kata tanya yang artinya berapa (esa pira). Kata biji dalam bahasa Nagekeo adalah di’e atau li’e.  Die’ atau li’e yang berarti biji lalu dikaitkan dengan buah zakar (alat kelamin lelaki). Orang seharusnya mengatakan ada berapa buah kelapa ( nio di’e pira). Tetapi karena ada konotasi di’e dengan bagian dari alat kelamin lelaki lalu kata di’e diganti. Maka orang tidak mengatakan di’e pira (berapa buah). Yang menjadi aneh demi menghindari konotasi kata die’ dengan buah zakar, kaum wanita  mengatakan nio esa mona (kelapa tidak berbuah) pada hal bisa dikatakan nio di’e mona.

Sopan santun dalam bertutur dan bertingkah laku mempengaruhi orang untuk memilih kata-kata dalam percakapan harian.  Di daerah Flores Timur ketika orang menyebut pisang susu, dahului dengan minta maaf bila diucapkan seorang lelaki di depan kaum wanita (saya tadi membeli pisang maaf..pisang susu).  Dalam satu siaran televisi  salah seorang  wanita dari 3 orang penyiar ketika memberitakan bahwa Malinda melakukan operasi, dia dengan agak tersipu mengatakan bahwa Malinda akan dioperasi dada. Dia berusaha menghindari kata susu atau payudara. Karena ketika mengatakan susu atau payudara dia seolah mengatakan salah satu bagian tubuhnya sendiri  yang tertutup.

Segala sesuatu yang berkaitan dengan bagian vital tubuh yang selalu dijaga dan ditutup punya hubungan dengan rasa malu.  Alat kelamin selalu ditutup. Orang malu membuka atau membiarkan tidak tertutup. Karena bila dibiarkan terbuka orang merasa malu. Maka alat ini disebut kemaluan. Demi sopan santun dalam berbicara orang menyebutnya dengan urat malu. Urat yang bikin orang malu.

Seorang Dewi Persik begitu terbuka dan membuka diri bahwa dia telah melakukan operasi di bagian  alat kelaminnya. Berbagai media massa dan termasuk siaran televisi menyajikan berita itu. Dewi Persik melakukan operasi untuk menyemai dan merapatkan lagi selaput dara (keperawanannya). Dia ingin suami barunya merasakan bahwa dia masih perawan dan berdarah bila berhubungan badan sebagai suami istri.  Itu omongan dari Dewi Persik di televisi.  Dewi Persik  seorang yang sudah menikah dan menjadi janda. Artinya dia sudah tidak perawan lagi. Dan dia mau kelihatan seperti masih perawan dengan menjalankan operasi. Operasi sejenis seperti kata dr. Boyke bisa saja dilakukan pada mereka yang bermasalah(pemerkosaan atau kecelakaan).  Artinya operasi sejenis bukan saja pada Dewi Persik seorang. Tetapi yang  membuat kita terbelalak bahwa di negeri ini  bagaimana seorang wanita yang selalu dikaitkan dengan penjaga utama moral keluarga, harus bicara seperti manusia jalang dan tidak beretika. Dewi Persik menyebut alat kelaminnya seperti  kuping dan lembar tangannya yang selalu dibuat telanjang.  Seperti kegemasan kita, dr. Boyke juga bertanya mau apa Dewi Persik melakukan itu. Dia menjahit dan merapatkan vaginanya mau buat apa. Dewi Persik yang berkali-kali tampil seksi dan melorotkan penutup dadanya seperti terus berbuat ulah.

Membuka bagian tubuh yang sepantasnya ditutup tentu memalukan. Karena itu orang tidak membicarakan secara terbuka segala hal yang berkaitan dengan bagian tubuh yang memalukan atau kemaluan itu. Dewi Persik dengan lantang dan bangga omong besar di televisi tentang alat kelaminnya sendiri, tentang vaginanya. Sungguh memalukan.  Tidak berurat malu dan itu maaf.. sama dengan tidak punya kemaluan. Setiap insan Indonesia punya pegangan Pancasila sebagai rohnya.  Sesudah Tuhan ada manusia. Karena itu ada sila Kemanusiaan yang adil dan beradab. Pertanyaan kita di mana keberadaban seorang Dewi Persik dalam bertutur kata? Hal semacam itu seharusnya tidak perlu diumbar-obralkan.

About these ads

About atanagekeo

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s