Terakhir kali saya menggunakan pesawat terbang adalah tanggal 12 Oktober 2009. Penerbangan Batavia Air dengan nomor penerbangan 7P-701 sesuai ticket akan meninggalkan Cengkareng 15.30 WIB dan tiba di Surabaya pada 16.35. Penumpang diminta check in jam 13.20. Kami meninggalkan rumah jam 10.15 WIB dari rumah di Cijantung. Hal ini dilakukan untuk antisipasi bila terjadi kemacetan di jalan raya ibu kota tercinta ini.
Sebagaimana biasa setelah cek ini penumpang menuju ruang tunggu. Mungkin sudah jarang bepergian dengan pesawat, saya merasa ada pemandangan yang tidak lazim. Jalan lorong menuju pintu masuk ruang tunggu beberapa orang berkelompok duduk di lantai menikmati makanan kecil, mengobrol dan tidak peduli. Sekitar 3 meter dari pintu masuk dipasang papan pemberitahuan. Isi pemberitahuan adalah kewajiban perusahaan jasa penerbangan terhadap pengguna jasa bila terjadi keterlambatan (delay). Keterlambatan memang sudah menjadi biasa. Pemberitahuan ini mengisyaratkan betapa seringnya penundaan penerbangan dan pasti telah terjadi ada kelalain perusahaan penerbangan melayani pelanggannya. Melalui pemberitahuan yang sama dapat diartikan sebagai himbauan kepada calon penumpang agar tidak usa cemas. Keterlambatan memang biasa. Tetapi tidak usah cemas anda tidak dibiarkan sia-sia. Anda akan mendapat makanan kecil. Dan kami pun mengalami keterlambatan hampir satu jam. Ada pengumuman mendapat makanan kecil, tetapi banyak orang diam tidak pernah bergerak dari ruang duduk. Orang memilih duduk dari pada kehilangan tempat istirahat. Ruang tunggu penuh dengan penumpang ke berbagai tujuan.
Menumpang pesawat terbang maskapai dalam negeri kita termasuk penyandang nama besar Garuda dan Merpati masalah keterlambatan sudah lumrah. Ketika suatu waktu saya melakukan perjalanan ke Flores, pesawat bahkan tunda sampai keesokan harinya. Seeorang anak muda hanya bisa meratapinya. Keluarganya menunggu di Bandara Ende untuk menjemputnya karena pemakaman ibunya menunggu kedatangannya sebagai putera tertua. Transit di Denpasar atau terbang dengan pesawat mana saja dari Denpasar merupakan sebuah situasi yang sangat menjemukan. Pengumuman-demi pengumanan penudaan keberangkatan bagai iklan paling top tentang keburukan pelayanan ini. Nampak wajah-wajah muram duduk, bahkan ada yang tidur di kursi ruang tunggu.
Pelayanan pesawat terbang kita tidak saja berurusan dengan penundaan yang membuat kesal. Membeli ticket saja sudah jadi masalah. Akhir-akhir ini teknologi online agak banyak menolong. Ingat orang penerbangan seperti Garuda saja kalau ada yang mau booking selalu bilang penuh. Ketika berada di pesawat puluhan kursi kosong. Pelayanan pesawat kita sungguh mengecewakan. Tak heran pesawat asing seperti KAL dan JAL menikmat benefit bisnisnya. Kursi pesawatnya selalu penuh.
Penumpang domestik memang tidak dihargai. Saya pernah terbang dengan Lion Air dari Kupang-Surabaya-Cengkareng. Penerbangan dari Kupang pagi memang tepat waktu. Sayang perusahaan tidak menyajikan apa-apa bagi penumpangnya. Tidak usaha makanan kecil, air untuk membasahi kerongkongan pun tidak ada. Saya jadi ingat teman saya orang Korea, kepala kamu orang Indonesia memang murah. kalau celaka saja asuransi hanya menghargai Rp. 10.000.000,-. Mungkin ucapan teman saya benar. Kita memang orang murah. Tidak perlu dihargai dengan ketepatan waktu dan pelayanan yang lebih memadai. Pelayanan menurun tajam sementara hargai ticket terus begerak naik.
d