Ketika akan kembali ke Jakarta saya berangkat dari Mauromba sekitar jam 7.00 WIT. Setelah bersalaman pamit dengan keluarga serta beberapa warga kerabatku di kampung , Ance keponakan saya menjalankan mobil Avanza keluar dari kampung. Jalan Romba Maunori memang masih berbatu hingga dekat pertigaan menuju gereja Hati Kudus. Dalam perjalanan saya mengontak Drs. Yohanes Samping Aoh, bupati Nagekeo di Mbay. Saya menyampaikan ingin bertemu sekitar jam 10.00 WIT. Dan pada waktunya saya diterima. Saya membawa laptop untuk mepresentasikan beberapa kegiatan saya selama di desa Witurombaua. Hasil pembicaraan tidak istimewa. Pejabat daerah bukan seorang pengusaha. Dia adalah penguasa. Dingin dan tidak memberikan gairah saya berlama-lama di ruang kerjanya. Sebuah meja sederhana berada sebelah kanan, di sebelah kiri ada seorang pegawai laki-laki. Hawa ruangan hangat. Tetapi yang membuat saya segera meninggalkan ruang itu bukan karena gerahnya ruangan, tetapi dinginnya penguasa menanggapi kunjunganku. Saya jadi teringat ketika suatu saat ingin mengunjungi kantor perindustrian propinsi di Kupang. Penampilan saya terlalu bersahaja, dan saya tidak sempat bertemu pejabat. Padahal waktu itu saya sedang menjajagi sebuah kemungkinan kerja sama handicraft dengan seorang berkebangsaan Amerika. Dingin dan kurang tanggap. Saya meneruskan perjalanan ke Ende setelah bertemu orang nomor satu Nagekeo.
Hari semakin siang dan perut sudah terasa lapar. Kami berencana tidak singgah di rumah keluarga. Karena pasti akan memakan waktu lama, bisa ketinggalan pesawat. Di Nagaroro ada sebuah warung nasi. Saya segera menuju warung. Nasi dan lauk habis kata pemilik warung. Saya sedikit bercanda menanyakan apakah masih ada “ngembi Ka” (sisa nasi paling akhir/kerak). Sang ibu dan semua yang duduk tersenyum. Ngembi atau kerak nasi sangat dihargai di Korea. Mereka merebus lagi dengan air. Kemudian dinikmati dengan meminum airnya. Nikmat… kata teman saya. Ketika saya minta mencicipi. Saya diam dan teringat air cuci piring. Lain padang lain adat dan budayanya. Aku membawa perut kosongku sampai Ende. Di perjalanan saya menelpon saudaraku Pius agar siapkan makan siang.
Warung makan di jalan-jalan di wilayah Nagekeo masih sangat sedikit. Kalau bepergian dari Mauromba ke Mbay atau Bajawa anda adalah penumpang paling malang. Kendaraan umum bergerak dari Mauromba tepat waktu. Jam 4.30 pagi sudah berada melintasi kampung dan harus segera naik. Banyak penumpang tidak mandi, apalagi makan pagi. Mereka harus segera berangkat pagi hari, karena sepanjang jalan sampai Raja banyak orang yang menunggu. Sampai di Raja sekitar jam 8.00 WIT. Di tempat ini kendaraan hanya menurunkan dan menaikkan penumpang kemudian meneruskan perjalanan ke Mbay, Bajawa atau Ende. Di pertigaan Raja ada sebuah warung makan sederhana milik para suster. Tetapi belum buka pada pagi hari. Di Boawae ada beberapa warung nasi juga belum buka pada jam 8.00 pagi.
Saya pernah mengadakan perjalanan pagi dari Maumbawa ke Mbay. Perjalanan dilakukan subuh jam 5.00 WIT. Sepanjang jalan tidak ada warung makan. Ketika tiba di Boawae warung belum buka. Saya akhirnya coba mengunjungi seorang teman sekolah saya Om Abubakar, yang membuka usaha jahit di pinggir jalan di Boawae. Ketika akan ke rumahnya, kami ketemu di jalan. Saya memaksa untuk melihat rumahnya. Dalam hati saya ingin menikmati teh hangat. Karena rumah kosong, kami hanya sempat bongkar sisa makan semalam.Perjalanan diteruskan ke Mbay, tiba di Raja warung nasi milik suster belum buka. Karena banyak urusan sampai lewat tengah hari tidak sempat makan. Tangan kanan saya telah beberapa hari terasa sangat sakit. Karena terasa tak kuat menahan sakit, saya memeriksakan diri di Poliklinik Danga. Aku dikejutkan ternyata tensi darah saya 200/90. Kata dokter wanita ayu asal Tangerang saya harus waspada.
Jalan menuju Mbay
Warung-warung makan di Nagekeo termasuk yang ada di ibukota kabupaten Mbay jumlahnya terlalu terbatas. Ada beberapa warung makan Padang. Tetapi bagi yang terbiasa makan higienis anda harus ketar ketir karena menyaksikan begitu banyak lalat beterbangan. Saya sempat makan di warung pak Hasan dan salah satu warung makan Padang. Pernah juga saya menikmati makan siang bersama 4 orang pejabat pemda Nagekeo. Ternyata warung pak Hasan menjadi tempat paling banyak dikunjungi para pegawai Pemda. Sayang menu dan pelayanan jauh dari standar. Saya merasa belum ada satu pun warung makan yang cukup baik di Nagekeo. Dan ini sangat sulit bagi pengunjung kota ini. Hotel disana tidak mempunyai restoran. Kota Mbay masih jauh dari kelayakan sebagai ibukota kabupaten. Mbay belum terjamah. Nagekeo masih perawan. Namun saya yakin Mbay mempunyai daya pikat luar biasa. Aku selalu ingin balik kesana.
seusai membaca tulisan ini dan lima belas menit saya menatap foto di atas…menginspirasi saya menulis sebuah puisi…
By: kris bheda on August 29, 2009
at 8:30 am
Inspirasi datang dari mana saja. Tinggal siapa yang memanfaatkannya. Saya menanti hasilnya…
By: tanagekeo on August 29, 2009
at 11:30 am
sudah saya posting di blog sy om
By: kris bheda on August 29, 2009
at 12:20 pm
setelah saya membaca artikel di atas saya merasa terkesan juga dengan apa yang sedang dialami di nagekeo khususnya di mbay………..nga’o sebagai putra daerah Nagekeo ikut rasa prihatin ne kita ena tanah flores. ele mesi kami la’a-la’a ena tana ata, kami dhetu ye walo……………salam nagekeoku…………
By: fr. bony on October 29, 2009
at 7:55 am
@Fr. bony. terima kasih negha sadha ena soja te.
By: tanagekeo on November 12, 2009
at 1:24 pm