KERANDA MAYAT BERGERAK TANPA PENGUSUNG

Keranda, tempat usungan mayat bergerak melintasi jalan kampung pada malam Jumat. Tidak ada yang mengusungnya. Keranda itu bergerak pelan dan terus menghilang.  Sekelebat cahaya melintas cuuuit…. Jenazah berbalut kapan putih melintas jalan di keremangan. Pemandangan semacam ini begitu sering terjadi di jalan kampung Tanjungkerta, Kuningan. Bagi yang bernyali dibawah garis rata-rata pasti bulu kuduk berdiri dan merinding. Kata orang Nagekeo “taku me’a (takut sendirian).  Ini dikisahkan oleh seorang teman yang mengalami sendiri kepada saya dan isteri di teras rumah kami.

Ketika ibu teman  meninggal dunia, saya ikut berbela duka  dan hadir acara pemakaman di kampungnya. Kampung itu lumayan maju dengan rumah-rumah permanen. Jarak dari jalan raya kabupaten seekitar 4 km. Melewati 3 undukan bukit kecil yang penuh dengan sawah di kiri dan kanannya. Karena kepercayaan saya berbeda, saya tidak mengikuti sholat Jenazah di mesjid. Saya berjalan kaki melewati jalan berbatu menuju tempat pemakaman, Makam berada di bukit penuh pepohonan. Di tempat pemakaman yang penuh pepohonan dan semak liar, ada lebih dari 40 orang menggali kubur. Untuk pertama kali dalam hidup saya melihat semangat gotong royong orang menggali makam. Itu tergantung siapa yang meninggal, demikian kata teman ketika saya mengungkapkan kekaguman.

Sehari sesudah pemakaman teman saya menunjuk pada sebuah rumah besar. Teras rumah tampak megah disokong pilar bulat gaya Istana Merdeka Jakarta. Ada sebuah mobil avanza terparkir di garasi samping kanan rumah. Katanya ini yang pernah dia ceritakan pada kami. Mereka orang-orang yang mementingkan kemewahan. Segala cara ditempuh. Yang penting hidup kaya, urusan mati biar melarat. Saya kurang paham. Dia menjelaskan bahwa yang penting hidup enak dengan penuh harta. Cara-cara untuk memperolehnya pasti bukan urusan banting badan. Kekayaan mereka diperoleh melalui “pesugihan” (doa dan kurban) khusus  mohon kaya di gunung Kawi. Ada persekutuan dengan roh-roh jahat. Itu berarti sirik dan dosa. Pasti tidak direstui Yang Mahakuasa. Kekayaan-kekayaan semacam ini meminta kurban-kurban khusus (tumbal). Sudah pasti, kata temanku bahwa orang ini pasti mati sekarat, walau sekarang boleh bergelimang harta. Tunggu tanggal mainnya pada saat game over.

Pemandangan aneh-aneh menyeramkan seperti dikisahkan terkait dengan hartawan pesugihan. Kalau punya nyali dan siap berkurban ada jalan pintas jadi kaya. Tetapi siapa pun yakin berakit ke hulu berenang ke tepian. bersakit dahulu bersuka ria kemudian.

About these ads

About atanagekeo

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s