Lokomotif tua di Ambarawa atau kebun karet Malaysia telah menjadi tempat wisata, saya pernah berpikir bahwa kampungku di wilayah Keo Tengah bisa menjadi titik singgah wisata. Keo Tengah menyimpan pesona. Perkampungan tradisional Wajo yang melingkari Peo (rumah dan tonggak pemersatu adat) mungkin merupakan satu kampung paling unik yang keasliannya tetap dipertahankan. Seorang pemandu wisata, putera Keo Tengah, Emil Bei pernah bercerita bahwa turis asing sangat menikmati menginap dirumah adat Sumba. Dan Wajo dengan kekhasannya pasti menjanjikan pesona tersendiri. Orang Wajo tetap mempertahankan kekhasan karena terikat adatnya. Rumah-rumah hunian baru dibangun terpisah dari kampung Wajo yang terletak diatas bukit. Rumah-rumah hunian baru tersebar di luar kampung di sebuah lembah Mabhambawa.
Keo Tengah sebuah kecamatan baru yang sejak dulu terkenal dengan produksi tuak atau moke. Ingat orang Keo Tengah mengepung Bajawa berunjuk rasa ketika tuak dimasukkan dalam kategori minuman keras terlarang. Dan beruntung bupati Ngada yang berasal dari wilayah Nagekeo, memahami bahwa tuak tak terpisahkan dari adat dan budaya setempat. Kegiatan mengiris mayang pohon lontar dan proses memasak dan menyuling arak merupakan sebuah keunikan yang dapat menjadi obyek wisata. Saya membayangkan kalau ada satu lokasi yang disiapkan dengan lebih baik , dimana ada pondok (kuwu tua) dibangun khusus sebagai obyek wisata. Memanjat pohon lontar (koli) merupakan atraksi yang pasti tidak biasa bagi orang asing. Memanjat pohon yang cukup tinggi hanya menggunakan satu batang bambu (aur) pasti membutuhkan kegtraampilan dan keberanian yang ekstra dan mengagumkan.
Disebelah timur Bengga, setelah Keka Kodo terdapat batu-batu besar aneka bentuk juga merupakan sebuah pemandangan yang pasti tidak kalah menarik. Di sebelah barat Keo Tengah ada pemandangan menarik Ena Bhala (pantai pasir putih) yang masih belum tergarap. Mauwedu dengan pantai pasir putih dapat dijadikan bumi perkemahan dan bukit Wodowata dapat dijadikan ajang uji nyali anak-anak pramuka, yang biasa dikenal dengan jeritan malam. Anak-anak pramuka bisa memanfaatkan wilayah itu sebagai tempat hiking (kelana bukit) untuk sampai di tanah datar diatas bukit atau dapat diteruskan perjalanan menuju Ena Bhala. Biaya untuk menjadikan bumi perkemahan tidak banyak. Yang dibutuhkan hanyalah pembenahan pantai seperti menanam beberapa pohon ketapang peneduh dan membuat pondokan sebagai tempat peneduh di pantai Mauwedu maupun di Wodowata. Pada saat berkemah para peserta bisa diikutsertakan dalam proyek penghijauan bukit Wodowata.
