Orang Nagekeo, khususnya penduduk pesisir pantai Selatan pasti tahu kondisi wilayah Ghoe Wodowata ke Timur. Dalam bahasa daerah disebut Tana Tu’u Watu Alu. Sebuah wilayah tandus penuh batu.
Pada masa tahun 1960 an ketika perdagangan barter masih berlaku, wilayah Timur Wodo Wata membawa garam dan anyaman ke Mauponggo dan menukarkan dengan pisang, jagung dan beras. Kini wilayah -wilayah tandus itu berubah menjadi wilayah hijau dan penuh dengan tanaman sampai bibir pantai. Pisang bahkan jagung sudah tumbuh persis berdampingan dengan pandan pantai. Saya masih menyaksikan labu (besi/togu) bertumbuh subur sampai merambat ke semak bebatuan di pinggir pantai. Masyarakat setempat seperti di Mauromba sudah bisa memanen jagung dan menyimpan untuk musim kemarau. Hal yang dahulu tidak pernah ada. Pisang dan singkong sudah jadi konsumsi babi. Kelapa kini berbuat sangat lebat tetapi tidak banyak orang yang memanjat. Setiap malam orang bisa mendengar bunyi buah kelapa jatuh. Kelapa seperti biasa diolah menjadi kopra dan minyak kelapa. Cara membuat kopra sekarang sudah berubah. Dahulu semua buah kelapa dikupas, dibelah dan dijemur sebelum dikeluarkan dari tempurung. Kemudian dijemur lagi sampai kering dengan kadar air rendah. Proses produksi kopra sudah berobah. Kelapa dengan kulit langsung dibelah dan dijemur kemudian dicungkil dan dijemur lagi. Tahapan proses sudah diperpendek.
Pada siang hari di desa Wituromba kita bisa lihat begitu banyak kambing yang merumput dilapangan dalam keadaan terikat. Populasi kambing sekarang jauh lebih banyak dari masa-masa sebelumnya. Pemandangan semacam ini dapat dilihat hampir di semua kampung wilayah pesisir selatan.
Kehidupan masyarakat pesisir selatan sudah banyak berubah. Masyarakat desa sudah terbiasa makan pagi siang dan malam. Dan umumnya menu utama adalah nasi, walaupun tidak ada sawah di wilayah Keo Tengah, khususnya di pesisir pantai. Pergerakan barang dan manusia antar daerah sudah sangat lancar. Jalan mobil antar kampung sudah banyak tersedia, walau masih belum semuanya mulus. Bupati Yohanes Aoh berjanji akan jalan Maunori Bengga, itu yang dikatakannya ketika b erkunjung ke SMA Bengga.
Kehadiran sekolah Menengah Pertama (SMP) dan juga SMU di wilayah Daja Bengga turut mempengaruhi situasi sekitar sekolah. Sudah ada banyak warung dan juga rumah kost. Ini tentu mempengaruhi kegiatan perekonomian di wilayah ini.