Baru-baru ini saya menginap di Ledalero. Saya tidur di kamar yang sedang kosong. Penghuninya sedang tidak di rumah. Yang menarik perhatian saya adalah koleksi buku-bukunya. Bukan main banyaknya. Saya juga masuk kamar tidur pater Philipus Tule. Disana ternyata buku bertumpuk. Melihat buku-buku mereka, saya yakin buku mereka bukan sebagai pajangan. Buku-buku itu sudah pasti dibaca dan dicerna. Sebahagian terbesar dari koleksi buku dalam bahasa asing.
Apa bila bahasa adalah jendela dunia, maka para anggota komunitas svd di ledalero itu sudah banyak menengok pengalaman dan pengetahuan maha luas dan kaya dari dunia luar melalui buku buku itu. Penguasaan bahasa asing para alumni Ledalero tidak diragukan lagi. Dan itu menjadi modal terbaik untuk menimba pengetahuan dari penulis-penulis dunia.
Di Ledalero bercokol para doktor dan sarjana dan sejumlah calon orang cerdas. Tetapi saya tidak ada satu tanda masuk rumah biara itu, yang paling sedikit menggambarkan isinya. Tidak ada tanda khusus yang mencolok sehingga orang dapat segera tahu sedang memasuki satu lembaga yang luar biasa. Karena yang ada adalah sebuah keadaan yang sederhana secara luar biasa.