NAGEKEO DALAM KILAS

 

BERDIRINYA KABUPATEN NAGEKEO

Secara hukum Nagekeo berdiri atas dasar UU No 2/2007 tentang pembentukan kota/kabupaten baru. DPR telah menyetujui Rancangan Undang-Undangnya pada 8 Desember 2006. Sedangkan peresmian Nagekeo sebagai kabupaten baru dilakukan pada 22 Mei 2007, oleh  Mendagri Ad Interim Widodo AS. Saat bersamaan, Elias Djo ditunjuk sebagai pejabat bupati. 

Kabupaten Nagekeo adalah 1 dari 16 Kabupaten/Kota baru yang dimekarkan pada 2006. Ke-16 Kabupaten/Kota baru tersebut adalah Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Gorontalo Utara, Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, Kabupaten Minahasa Tenggara, Kota Subulussalam, Kabupaten Pidie Jaya, Kabupaten Kayong Utara, Kabupaten Sumba Barat Daya, Kabupaten Konawe Utara, Kabupaten Buton Utara, Kabupaten Kepulauan Sitaro, Kabupaten Empat Lawang, Kabupaten Batubara, Kabupaten Nagekeo, Kabupaten Sumba Tengah dan Kota Kotamobagu.

WILAYAH KABUPATEN NAGEKEO

Ibu Kota                 : Mbay

Luas wilayah          : 1.416,99 km2

Penduduk                :  119.104 Jiwa (24.331 kk)

Mata Pencaharian  :   18.954 kk Petani 

Wilayah Pemerintahan:  7 Kecamatan

1. Kecamatan Mbay                   5. Kecamatan Mauponggo

2. Kecamatan Aesesa                 6. Kecamtan Keo Tengah

3. Kecamatan Boawae                7. Kecamatan Nagaroro

4.  Kecamatan Wolowae

POTENSI DAERAH NAGEKEO

 Potensi ekonomi kabupaten Nagekeo terdapat dalam bidang Pertanian, Peternakan, Perikanan juga  Pertambangan..                

Sektor Pertanian

Di bidang pertanian, misalnya, Nagekeo menyimpan potensi luar biasa. Dari luas wilayah Nagekeo 1.416,99 km2, terdapat 69.581,4 ha lahan pertanian yang terindikasi berpotensi. Namun lahan yang fungsional hanya seluas 30.720,99 ha atau seluas 38.860,41 ha lahan masih berupa lahan tidur. Khusus di Mbay sendiri, dari 50.325 ha luas wilayah, terdapat 8.664,26 ha lahan yang berpotensi, sementara 8.126,8 ha lahan yang fungsional. Lahan sawah di Mbay yang berpotensi sebanyak 4.272,67 ha, yang fungsional 3.735,21 ha. Sementara lahan kering di Mbay seluas 4.391,59 ha semuanya sudah difungsikan.

Peruntukan Potensi Lahan

 Areal                                  Potensi (ha)                              Fungsional (ha)

Sawah                                 6.459,11                                  5.116,87

Lahan Kering                      63.122,29                                25.604,12

Hasil pertanian/perkebunan petani di Kabupaten Nagekeo, menurut data Bimas Ketahanan Pangan Ngada tahun 2005 lalu, tujuh kecamatan di kabupaten ini baru menghasilkan beberapa komoditi pertanian.

Produktivitas Lahan

Komoditas                   Luas Lahan (ha)                        Jumlah Produksi (ton/tahun)

Padi Sawah                  5.766                                       28.877

Padi Ladang                 1.678 ha                                   3.319

Jagung                          4.207                                       11.046

Kedelai                        64                                            55

Kacang Tanah              254                                          182

Kacang Hijau               187                                          152

Ubi Kayu                     1.515                                       16.476

Ubi Jalar                       455                                          2.758

           

Sumber : Bimas Ketahanan Pangan Ngada,2005

  

SEKETOR PERIKANAN

 Nagekeo memiliki potensi laut yang cukup menjanjikan. Potensi nener (bandeng) dan udang di perairan Marapokot amat besar. Dulu, pada era 1980-an, dari perairan Marapokot bisa menghasilkan 50 juta nener per tahun. Sebagian besar dikirim  ke tambak-tambak bandeng di Jawa Timur.  Sampai saat ini belum digarap secara serius penangkapan ikan dan budidaya rumput laut.

SEKTOR PETERNAKAN

Di sektor peternakan, Nagekeo kaya akan kambing/domba, khususnya di  Kecamatan Aesesa yang dikirim hingga ke Sulawesi Selatan. Selain itu, ada juga ternak kerbau, sapi, babi dan unggas.

SEKTOR PERTAMBANGAN

Nagekeo cukup kaya dengan beberapa bahan galian seperti galian konstruksi, galian industri dan galian logam mulia.  Hasil penelitian LPPM-ITB menyatakan, potensi bahan galian, antara lain bahan galian golongan C (BGGC), diantaranya bahan galian konstruksi (sirtu), bahan galian industri (tanah liat, marmer, granodiarit dan zeolit) serta bahan galian logam (emas, perak, tembaga, biji besi dan mangan).

Bahan galian konstruksi, yakni sirtu ada di Kecamatan Aesesa, yang  terindikasi sebanyak 2.783.483 m3. Sirtu di Kecamatan Boawae berada pada lahan seluas 383 ha dengan jumlah hipotik 191.908.817 m3. Sementara untuk bahan galian industri yakni tanah liat juga terdapat di Danga (Aesesa) yang penyebarannya pada 753 ha dengan ketebalan 2 M yang terdata secara hipotik 15.078.786 M3.

Sementara itu di Desa Nggolonio terdapat Granodiorit pada 679 ha dengan data hipotik sebesar 339.000.000 M3. Sementara Zeolit terdapat di Marapokot (Aesesa) dengan luas penyebaran 9,6 ha dengan indikasi 1.387.598 m3. Di Nagaroro zeolit tersebar di pinggri jalan Bajawa hingga Ende seluas 313 ha yang terdata secara hipotik sebanyak 265.334.055 m3.

 

 SEKTOR KERAJINAN

 Kerajinan Tenun      : Mbay, Tonggo dan Maundai (senda woi dan pete)

Kerajinan Anyaman : Keo Tengah, Nangaroro (Lontar dan pandan)

About these ads

About atanagekeo

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink.

71 Responses to NAGEKEO DALAM KILAS

  1. ben says:

    Maaf, Ada keterangan tentang lambang kabupaten nagekeo tak.. saya butuh nih.. makasih sebelumnya..

  2. Maxi says:

    Selamat! Blog ini perludikembangkan sebagai media komunikasi dan promosi nua-ola kita, Nagekeo.
    Proficiat bagi yang berinisiatif membuat blog ini. GBU

  3. tanagekeo says:

    @ben: Saya juga sudah 33 tahun dirantau. Saya jadi sadar saya juga tidak pernah melihat lambang itu.

  4. tanagekeo says:

    @Maxi: Terima kasih sudah kunjungi blog ini. Saya tidak begitu entusias mengelola blog ini. Sudah lama saya abaikan. Mungkin kunjungan kalian memacu saya untuk menggali beberapa khazanah daerah yang terlupakan.

  5. nando doke says:

    salam kenal,saya nando orang nasawewe keo tengah,yg ada di jakarta. sy harap segenap warga nagekeo dan aparat terkait,bersama-sama membangun nagekeo menjadi kabupaten teladan dan mandiri.

  6. manukako says:

    gmana berita nagekeo sekarang,ada info update???ngao keze

  7. Yanssen Arnold says:

    kebanggaan sebagai kita ata Nagekeo harus ditindaklanjuti dengan tindakan nyata untuk berpikir tentang pembangunan Nagekeo secara komprehensif, yang saya sesali adalah masih banyak putera Ngekeo di tanah rantauan yang bergerak tidak atas nama Nagekeo. mari kita nyatakan kecintaan kita sebagai kita ata Nagekeo berawal dari pengakuan bahwa kita sudah punya dapur sendiri.

  8. Hildegardis Ghela says:

    halooooow….saya Hildegardis dari boawae tepatnya didesa rowa n skrg di Yogyakarta. mari berjuang bersama membangun nagekeo dengan damai, sukucita dan penuh kekeluargaan. Berjuanglah bersama atas dasar
    “Kolo Sa Toko Tali Sa Tebu”
    Lovvvv yu
    “N A G E K E O”

  9. Risty says:

    maju terus nagekeoq

  10. CG says:

    maaf mau tanya, kalo dari Jakarta ke Kabupaten Nagakeo naik apa ya? tolong info detailnya dong… Thank’s

  11. ferry soo says:

    mai kita ata nagekeo…kita jaga modo-modo nua oda kita. kita junjung tinggi tanah mata muri kita.

    mae papa kiki
    mae papa wago
    mae papa ngisi

    kita bangun nagekeo ne’e ate ta ndala
    kita tau muri ana embu kita ne’e ate ta bhala

    mai…mai rembu sa kita…BANGUN NAGEKEO

  12. selvi says:

    Maju terus,..bangun nagekeo

    @SELVI : Terima kasih sudah mau mampir di pojok ini.

  13. fia says:

    ja’o sena baca tentang nagekeo,serasa kita ada di tanah nagekeo. Ka’e emba foto-foto tana watu- nua oda kita?

  14. kris bheda says:

    om salam jumpa lagi, maaf ja’o baru kunjung lagi blong te, maklum ja’o selama tiga minggu lebih ke pedalaman Aceh yang sama sekali gak ada signal, internetan via hp sulit. Tapi ja’o senang ngada kunjungi lagi blog te…satu-satunya blog yang membuat anak rantau merindukan kampung halaman…membaca blog ini seperti sedang mengobrol tentang kampung halaman di Nage Keo…yang paling menyentuh saya adalah ketika ada kata-kata adat, pata pede yang di tulis atau yang dikomentari ata kita…sangat menyentuh…om ja’o kangen dengan udu mbuju eko lomba…

    @KRIS: Jao senang tama ena blog-blog ata kita pu’u mena nua. Jao terus-terus posting uru jao tei ngge dera datu ata kita buka blog nagekeo. Jao sedang merencanakan untuk berkomunikasi dengan ana udu mbuju eko lomba. Ede kita menga dora pa, kita ana ko’o Udu mbuju eko Lomba. Jao nambu te dheko mbabho ngasi tau welo kapela Watunggegha. Wengi pira jao ndii reta nua wuda rua lesi. Mai kita su’u wangga sama-sama.
    Salam jao akan selalu kunjungi blogmu. Aku tertarik dengan tulisanmu. Saya sudah lama meninggalkan itu dan masuk dalam komunitas kerja yang membuat saya kurang kritis dalam berbahasa.

  15. kris bheda says:

    maju terus Om, melalui dunia maya kita bisa berbagi cerita, jao selalu mengunjungi mogha blog te…melepas kangen, memperkaya wawasan dan peduli kampung dan negeri

  16. tanagekeo says:

    @Kris: Terima kasih untuk dukungannya… tabe woso pu’u ndia Jakarta…

  17. vincent segudo says:

    sebagai putra asli nagekeo,wajib hukumnya bagi kita untuk mengetahui dan terus memantau proses pembangunan kabupaten kita tercinta. Salah satu sarana yang sangat membantu yakni lewat blog. Nga,o secara pribadi sangat bersyukur ada bloger2 asli nagekeo yang selalu menghadirkan berita2 terkini mengenai nagekeo.” MAJU TERUS NAGEKEO”

  18. theofilus says:

    Om, no hp ta numai ne ganti ka om? Jao beberapa kali
    hubung tado

  19. Hironimus says:

    Membaca tulisan-tulisan diblogmu, serasa berada di bawah kaki bukit kediwatuwea, sembari peti ngoka bersama kawan. Pingin hati kembali ke maunori, tapi apa daya tugas yang mengharuskan saya terdampar di bumi pempek sumatera selatan. Jayalah terus nagekeoku. Suatu waktu kami akan kembali untuk membangun tanah watu-nua oda tercinta.

  20. don says:

    koreksi : Kecamatan mbay itu tidak ada(keliru) yang benar : Kecamatan Aesesa dan Kecamatan Aesesa Selatan.

  21. @ndi L@do says:

    Sukses buat kita anak-anak Nagekeo,, sebagai generasi muda Nagekeo kami mendukung penuh segala bentuk pembanguna daerah tercinta.. sy selaku ketua PERMASNA – Kupang 2009/2010 mengucapkan profisiat kepada penginisiatif blog ini,! Harapan, Kiranya para leader kabupaten lebih memperhatikan peningkatan SDM generasi nagekeo. “SDM SEBAGAI BAROMETER CEPAT LAMBATNYA PEMBANGUNAN DAERAH”. i love u fulllll NAGEKEO..!!!!

  22. Maju terus Mbay alias Nagekoe….. Semiga dengan pembentukan kab. baru ini akan lebih maju untuk kedepannya.

  23. bony says:

    jao senang ngala buka blog te…..jao ata nagekeo mogha….pu lau Mauponggo……….hanya jao kuliah d malang………ngara miu tau blog miu masuk ne foto2 tana ola kita………..semoga nagekeo menjadi kabupaten yang makmur, aman dan damai………semoga masyarakat kita ngla dukung mogha pemerintah supya kita sama2 membangun nagekeo kita………by Fr. Bony……..TUHAN MEMBERKATI MASYARAKAT NAGEKEO dan KABUPATENKU………

  24. Fr. bony says:

    ngao sebagai orang pendatang/masyrakat translokal di penginanga, ngao cuma berharap agar kita muri papa pawe ne ata wa ipi bhali. kita mae papa musuh…mai kita sama2 bangun nua ola kita.

  25. Fr. bony says:

    kita ngla kirim2 email ti jao ena fbony@ymail.com. thanks…

  26. bonfass tango says:

    salam kenal buat teman2 nagekeo. ini dengan orang keotengah (ata daja wawo). senang bisa ketemu teman2 sekalian dalam blog ni. god blessing

  27. tanagekeo says:

    Terima kasih Bonif sudah berkunjung ke sini. Jao Tali ata Lomba, kae ko’o Margo, ADel, Lud. Kau pasti embu ko’o bapa Tango. Miu pasti mbe’o jao. Bhodo jao mona mbe’o miu. Jao nembo ndia tana Jawa ebho mere. Jao ha di ne’e sira Ami Kubu dau Pu’u Kungu.

  28. tanagekeo says:

    Buat minda woe kae ari kita ta dhi la pu’u tana watu Nagekeo mai kita papa liko tiwo. Weki woso do liwu. Mera negha ndi’i papa reu mere negha papa medha, bhodo mai papa liko tiwo ngai rende, oda mbe’o mo’o tau mere tuka nua toda oda ta kita lela uru pu’u mo’o nggae oda mbe’o, pusi tuka weki ne’e pagha fai ana. Tabe woso!!!

  29. BASTIAN NAGA ORIGINAL MBAY says:

    ya semoga nagekeo ke depan lebih axis lg soalx msh banyak mslh internal yg harus difiniskan terutama maslah tanah di mbay sy harap bupati dan stafnya bs meredam problem ini agar bs berjalan dgn lancar……

  30. obeth says:

    nagekeo terus maju

  31. yani sea says:

    salam untuk semua. semoga nagekeo maju terus dan sukses ke depan. menjadi kabupaten yang sejahtera dan makmur serta berkeadilan. karena potensi daerah tang terpendam dan butuh penanganan untuk kepentingan semua. Jangan biarkan nagekeo menjadi gersang ditengah kebellimpahan. yani, batam

  32. yani sea says:

    apa kabar wekaseko……….apakah wekaseko kampungku masih gelap, tanpa adanya listrik? sedih ya,………….., semoga kampungku menjadi terang benderang krna uda adanya kabupaten baru nagekeo. juga jalan raya yang selalu diperbaiki hampir tiap tahun, semoga jalan trans kaburea menjadi lebih mulus lagi untum memudahkan mobilitas penduduk dalam pencapaian ekonomi.

  33. Ludovikus says:

    Bagus isi blog ini. Maju terus. Sukses! Salam hormat saya. Coba wartakan juga kekayaan adat kita. Misalnya, pebha paya, bhea, bebi ja’i, dll. Saya seberulnya ingin menulis dan membagikannya di dalam blog saya. Namun, pengetahuan saya amat terbatas mengenai unsur-unsur kebudayaan kita yang kaya makna itu.

    Ludovikus SMM
    Putra Paulundu, tinggal dan berkarya di Bandung
    luigi3665.wordpress.com

  34. Tanus Feto says:

    Saya baru kunjung.Provisiat yang membuatnya.Mari kita bangun Nagekeo dari sekarang.Nagekeo masih butuh uluran tangan dari kita semua.Mari kita bangun daerah kita dengan cara kita masing-masing.Teristimewa bagian pendidikan yang sangat terperosot jauh bila di bandingkan dengan daerah lain di nusantara ini.Minimal para alumni membantu buku-buku sumber buat sekolahnya masing-masing.Seperti yang kami lakukan untuk SDK KOTA dan SMP ST Petrus Lokatadho.Kotakeo Kecamatan Nangaroro.Al hasil SMP St Petrus Lokatadho sudah 2 tahun terakhir ini lulus 100 %.Mari kita coba dengan cara kita masing-masing.

    Tanus Feto
    Putra Kotakeo

  35. yani sea says:

    salam ketemu lagi sama Pastor Lodo SMM, apa kabar, senang sekali bisa ketemu. yani sea, batam

  36. ANTON WEKA says:

    Salam dan provisiat yang membuat blog ini. ngao pu,u wolowae meza ndia kupang.mai kita sama-sama ana suko nagekeo khususnya wolowae. dengan spirit udu papa pudu, eko papa pongo demi membangun nagekeo tercinta. maju terus blog ini

  37. Dolny says:

    salam dan provisiat yang membuat blog ini. mari kita bangun nagekeo tercinta agar lebih maju dan tetap berkembang…buat dinas perhubungan kalau bisa profil dermaga marapokot di kasih masuk biar semua orang tau kita nagekeo mempunyai dermaga yang menjadi sarana transportasi laut yang sangat strategi dan biar orang berbondong-bondong menggunakan fasilitas nagekeo terutama pelabuhan marapokot..makasih…

  38. aloysius L Wea says:

    sy senang bisa bergabung diblok ini…..mari kita bangun bersama nagekeo tercinta dengan membangun….infrastruktur seperti pelabuhan di marpokot..serta lapangan pesawat terbang….saya yakin para investor dimanapun khusus dari jakarta dan surabaya akan segera menanamkan modalnya di kabupaten NAGEKEO TERCINTA ini membutuhkan kebranian para pejabat pemerintahan daerah setempat….selamat berjuang………salam jg buat curator blok ini salam kenal saya dari desa wolowea raja,boawae…tinggal dan berkarya dijakarta…..

  39. tanagekeo says:

    @ Aloysius L Wea: Partisipasi dalam pembangunan daerah Nagekeo bisa dalam berbagai cara. Bila ada kritik bahwa sumber daya manusia (SDM) daerah rendah, maka mari kita orang Nagekeo sumbangkan gagasan realistis yang dapat dijalankan dalam kondisi Nagekeo sekarang ini. Atau mari kita wado nua , mai too jogho wangga sama ne’e sira ta ndi’i nua mera oda.
    Salam pu’u ena jao Tali ata Lomba

  40. STEFANUS TUBA says:

    Saya orang Mataloko,tapi saya pemerhati Kabupaten Nagekeo.Saya sangat miris membaca berita Nakekeo sebagai salah satu Kabupaten di NTT yang tidak diberi penilaian oleh BPK,salah satu faktor penyebabnya adalah masalah aset.saya ingin membantu secara profesional.tapi saya tidak punya akses, adakah yang bisa bantu?

  41. Tanagekeo says:

    @ Terima kasih kepada siapa saja yang sympati pada kabupaten kami yang baru….NAGEKEO

  42. Cyrilus says:

    Iya saya juga baru pulang dari kampung wekaseko neh.Hadoooh ampun di sana kampung kita jadul banget..gelap kalo malam belum ada listrik..gk tau napah lagian jalan2 juga belum ada yg berers kasihan bangt ya semoga ke depan lebih baik lah,,,,terus sifat dan cara pikir yg kerdil di kampung juga masih di pelihara si jadi susah majunya,,,apa kata dunia?

  43. Tanagekeo says:

    @Cyrilus: Memang yang susah adalah merobah cara berpikir…..

  44. Heri K. Wasa says:

    saya baru berkunjung nih, trims untuk semua infonya. apalagi sy sd lama mona walo ola. aku setuju dgn komentar tanus feto di atas. trims ya.

  45. Tanagekeo says:

    @Heri K. Wasa: Terima kasih woso, negha dhato dhu ena blog te… Mari kita sama-sama sara ka koo pata ine embu sii: Mai too jogho wangga sama….Fea papa dhewi, ta ndate papa bhei…

  46. cosmas says:

    trimakasi woso,ngao ata liwo,uluwagha ngao bangga krn Nagekeo kema papa dheko.mai rebua kita suko soo kema molo2 mae papa noyo

  47. cosmas says:

    mae noyo ngao tuga ta sodho kema molo2..mae jadi nagekeo koruptor kami rantau dia tana papua negha iwa bulurua lae walonua

  48. cosmas says:

    mf tk adik cyirilus kalau rantau ditanah jawa pulang kampung jgn angkuh,krn kita puu nebu ine ebu welu tuga koo lampu nana ILAMELU mae sombong

  49. cosmas says:

    trimakasi ngao le dheko blok te…mai rebu kita anasuko soo kema molo2 jaga nua ola kita ta negha mona mona.by#Kosmas putra lIWAPA skrg lagi cari hidup di tana PAPUA. Iwa bulurua ngao lae walo nua

  50. Tanagekeo says:

    @Kosmas, terima kasih kau negha sadha ena te. Tabe woso ti kae ari ta ena tana Papua. Papua tana mere watu dewa, miu ena pero emba. sai mbeo kae ari ta pesa datu ena mogha. Jao ata Mauromba atau ata Lomba. Weta jao Imelda Nende, fai koo Bapa Philipus Bhai rede Ulu Wagha. Modo tabe woso…

  51. cosmas says:

    poa ema,m@@f numai ngao tuga moo yenge2 akirx ketenu jg keluargaq.ngao nee gholo2 ndia Asiki/Tanahmerah kami gae ka ndia perusahan korindo.Ime Nende te neba? Ngao ngara Kosmas Raga puu uluwagha nua liwo

  52. Tanagekeo says:

    @Kosmas, Ime Nende negha mata, tungga ta ana imu Udis kerja di Bandung. Udis bersaudara tiga orang. Tabe woso…kema pawe, mendi weki ria….

  53. marco says:

    kita ata nagekeo harus mendukung kemajuan kabupaten nagekeo,dngan cara kita sendiri.ewako nagekeo………………………

  54. Tanagekeo says:

    @Marco: kita semua sepakat…modo tuu mbee…

  55. yoseph mbulu says:

    saya senang kalau berbicara tentang kabupaten nagekeo, karena daerahnya berpotensi khususnya dibidang pertanian, sekilas dalam perjalananku di thn 2010 lalu ke so’a menghadiri pernikahan teman guru kami ibu ermelinda n. ghopa, guru kesenian di sekolah kami (smp.n 4 wolowaru di woojita), aku lihat begitu luar biasa suburnya alam nagekeo and bajawa. aku merasa iri dengan alam yg ada di daerah nagekeo,manfaatkan dan rawatlah alam ini dengan baik, apalagi orang-orangnya juga memiliki daya juang yang tinggi, sopan, bisa dipercaya, bangunlah kabupaten anda dengan potensi yang ada di dalamnya. kami orang ende lahannya kritis dan kurang subur, tetaplah berjuang dan kerja keras, wujudkan kab.nagekeo menjadi kabupaten andalan di masa yang akan datang. Amin.

  56. Tanagekeo says:

    @Yoseph: Terima kasih atas kunjungan ke blog ini dan sumbang sarannya. Tidak ada putera Nagekeo yang menyangkal akan potensi daerahnya. Pemekaran daerahnya merupakan buktinya. Dan orang Nagekeo terutama aparat pemerintahnya berjuang keras untuk eksis sebagai wilayah berpotensi besar.

  57. yoseph says:

    Saya satu orang Lio, senang sekali kalau berkomentar tetntang Nagekeo dan masyrakatnya, karena di sana tersimpan banyak potensi, baik sumbe daya alam dan sumber daya manusia yang kreatif, inovatif, dan kredibel. Nagekeo sudah terbentuk dalam skala kabupaten, inilah saatnya eja,ema ka’e, mengelola sumber daya alam yang ada ini, jangan terlalu merantau ke tempat yang jauh, nanti ema kae merana di sana, bagaimanapun di sana adalah hujan batu, di negeri ema kae sendiri adalah hujan emas yang tak kenal batas. ema kae yang ada di ende juga inga-ingat bale nagekeo, trima kasih…

  58. Tanagekeo says:

    @Yoseph: Terima kasih atas tanggapannya. Ketika Kaka k Yacob Nuwa Wea diangkat jadi Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Dia memang berbangga, tapi dia bilang sebenarnya banyak orang lain secara akademis lebih pintar dari padanya.
    Berarti kalau semakin banyak orang Nagekeo yang pintar menoleh kampung dengan sumbang saran baik, pasti Nagekeo lebih maju. Mantab komentarnya.

  59. harry says:

    wah blog yang luar biasa….jadi kepingin bisa berkunjung ke nagekeo!!!!
    om….diposting juga dong keindahan alam nagekeo….
    salam…..

    laurentius harimurti
    laurentius_h@yahoo.com

  60. Tanagekeo says:

    @Harry: Terima kasih atas kunjungan dan usulannya.

  61. yoseph says:

    ini adalah adalah komentar yang ke tiga dari saya orang Lio, yang sangat bersimpati dengan orang Nagekeo dan alamnya, yang begitu banyak tersimpan kekayaan alam dan Sumber Daya Manusia, untuk beberapa ratus tahun ke depan, Jadikanlah orang Nagekeo yang bersifat Patriotisme terhadap Alam Nagekeo, Jadikanlah orang Nagekeo yang mampu mengelolah Alamnya dengan menggunakan Ratio dan Teknologi, jangan biarkan masyarakat yang berpikir sederhana untuk mengelolah sendiri, Saya Salut…. dengan berlomba-lombanya, Orang Nagekeo menyekolahkan anaknya, untuk masuk Seminari yang kelak akan menjadi Pastur yang handal, dan ternyata benar, bahwa banyak Pastur dari Nagekeo yang berkwalitas, Pada tempat yang ke dua saya mau sarankan “Apa salahnya Orang-orang pintar Nagekeo disekolahkan untuk Bekerja di bidang Pemerintahan, untuk mencegah KKN yang sekarang lagi marak, KKN muncul dari orang berpikir sesederhana dan Keinginannya tinggi, tetapi kalau orang yang pintar berpiir jauh ke depan untuk masyarakat Umum, pasti KKN secara perlahan akan diminimalisir, dan juga supaya terciptanya pemerintahan bersih dan berwibawa dan pasti Nagekeo akan menjadi Kabupaten yang Handal di masa, yang akan datang, Pada tempat yang tiga, saya sarankan, Orang Nagekeo yang Pintar, jangan hanya bercita-cita Untuk menjadi orang besar,(PNS), tengoklah alam-MU yang belum terkelolah secara baik, Biar pekerjaan yang sederhana, tetapi mendatangkan banyak manfaat baik untuk kepentingan Pribadi, keluarga maupun kepentingan umum (masyarakat Nagekeo), Ijasah Sarjana, bercita-cita menjadi Petani itulah yang diharapkan jaman sekarang, Seorang Sarjana bukan Misinya untuk mencari Pekerjaan (menunggu Testing PNS) tetapi dengan Ijasah yang ada MENCIPTAKAN LAPANGAN KERJA SENDIRI, sesuai dengan Basic yang dimiliki. Kalau bukan orang Nagekep yang membagun daerahnya Siapa lagi? Kalau bukan sekarang Kapan lagi?, komentar ini merupakan sebuah sentilan saja, Kesimpulan akhir saya ” Orang pintar Nagekeo dibagi kedalam 3 pilar penting secara seimbang, yaitu : 1. Di bidang Keagamaan (Pastur), di bidang Pemerintahan (Pegawai yang bersih dan berwibawa), 3. di bidang pertanian, petrenakan,UKM dll.(menciptakan Petani yang handal,berkompeten,tekun dan Petani berdasi). Terima kasih. Jangan marah komentar saya banyak sekali, demi untuk Masyarakat Nagekeo. Thank’s.

  62. Tanagekeo says:

    Saya pernah berbicara dengan salah satu tokoh dari Papua. Mereka punya program 1000 sarjana. Semoga semakin banyak sarjana yang mau menetap di Nagekeo dan berpikir untuk daerahnya.

  63. Ishak Jogues Tibo Bebi says:

    salam jumpa buat teman Kris Bheda yang tidak tau dimana posisinya.
    salam jumpa dan mari berjuang bersama kami untuk membangun nagekeo.
    jangan cuma ngomong di rantau.

  64. dedi says:

    kawan kawan marih satukan niat, bulatkan tekad mari kita bangun daerah kita tercinta… (Nagekeo tercinta)

  65. gabriel edi says:

    mari kita sma-sama berjuang membangun daerah kita nagekeo.

  66. yoga says:

    salam untuk semuanya, saya baru bergabung dengan blok ini..Maju terus nagekeo…jangan pernah menyerah…

  67. Pedro Gais Mbipi ST h . M A says:

    Selamat siang bapak bupati dan saudara/i segenap mayarakat di Nagekeo Flores sebagai putera daerah asal Ende Lio Flores saya memiliki kerinduan utk mendukung pembangunan Perintisan Bandara dan Rumah sakit bertaraf Internasionaldan juga Proyek Penggadaan Air Bersih ( Water Treatment ) di kab Nagekeo apalagi ada persiapan jadi ibukota propinsi Flores . Yayasan Ende Lio Flores yang saya pimpin siap dukung dalam Pembiayaan Project Kemanusiaan di wilayah NTT.

    Salam Hormat dan Kasih

    Pedro Gais Mbipi S Th . M A

  68. jetho pmii says:

    maju terus nagekeo ku,,,,

  69. jeronmaunday says:

    terus untuk kemajuan kab kta bersama,,,,,,,,,,,,,

  70. UCAPAN TERIMA KASIH

    Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, atas segala Rahmat bimbingan dan penyertaan-Nya kepada penulis selama ini, sehingga penulis dapat menyelesaikan sebagian Penyusunan “Silsilah Keluarga Embu Ritu Dea” di Mauara, Kecamatan Keo Tengah, Kabupaten Nagekeo dapat diselesaikan.
    Silsilah Keluarga Embu Ritu Dea ini disusun sebagai salah satu syarat agar generasi anak cucu dapat mempelajari dan memahami asal leluhur yang mereka dan tata cara pelaksanaan hukum adat setempat.
    Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan rasa terima kasih dan penghargaan sebesar-besarnya kepada pihak yang terkait khususnya para orang-orang tua dan keluarga terdekat yang telah memberikan data dan informasi yang diketahuinya.
    Semoga segala masukan, petunjuk dan bimbingan dari semua pohak mendapat imbalan yang setimpal dari-Nya.
    Akhirnya dengan kerendahan hati dan penuh harapan semoga tesis ini dapat bermanfaat bagi pihak yang memerlukannya
    Penulis,
    Kanisius Kaka, SE.MM

    BAB I. PENDAHULUAN

    Perkembangan penduduk Mauara Dea dari generasi ke generasi semakin meningkat dan faktor yang menyebabkan pertambahan disebabkan karena adanya kelahiran. Pihak laki-laki harus mengambil istri dari dalam lingkungan Mauara itu sendiri maupun dari keluarga luar kampung Mauara dijadikan orang Mauara. Sebaliknya pihak perempuan harus mengikuti suami (nuka sa’o) dari dalam lingkungan Mauara itu sendiri atau keluar kampung Mauara dan apabila mengikuti suami dalam wilayah kampung Mauara meka tetap menjadi orang Mauara, sedangkan mengikuti suami di luar kampung Mauara dia harus menyesuaikan dimana keberadaan mereka ditempat suaminya. Namun demikian dari hubungan darah walaupun mereka sudah keluar kampung masih dianggap bahwa nenek moyang mereka berasal dari Mauara, hanya harta warisan yang dijadikan hak turun temurun sudah terlepas dari Mauara dan posisi mereka harus menerima hak harta warisan di tempat suaminya. Demikian juga istri-istri dari luar kampung Mauara mengikuti suami di kampung Mauara maka mereka dijadikan orang Mauara dan hak otoritas dari orangtua perempuan sudah terlepas.
    Dalam hubungan perkawinan menurut cerita para leluhur atau orangtua dulu katanya masyarakat Mauara, hubungan keluarga bertalian dekat dengan kelas sosial. Ada tiga tingkatan kelas social : bangsawan (mosa daki mere), orang biasa, dan budak atau hamba (O’o). Kelas sosial diturunkan melalui ibu. Tidak diperbolehkan untuk menikahi perempuan dari kelas yang lebih rendah tetapi diizinkan untuk menikahi perempuan dari kelas yang lebih tinggi. Ini bertujuan untuk meningkatkan status pada keturunan berikutnya. Sikap merendahkan dari Bangsawan terhadap rakyat jelata masih dipertahankan hingga saat ini karena alasan martabat keluarga. Kaum bangsawan, yang dipercaya sebagai keturunan dari surga, tinggal adat, sementara rakyat jelata tinggal di rumah yang lebih sederhana. Budak atau hamba (O’o) tinggal di gubuk kecil yang dibangun di dekat milik tuan mereka. Rakyat jelata boleh menikahi siapa saja tetapi para bangsawan biasanya melakukan pernikahan dalam keluarga untuk menjaga kemurnian status mereka. Rakyat biasa dan budak atau hamba (O’o) dilarang mengadakan perayaan kematian. Meskipun didasarkan pada kekerabatan dan status keturunan, ada juga beberapa gerak sosial yang dapat memengaruhi status seseorang, seperti pernikahan atau perubahan jumlah kekayaan. Kekayaan dihitung berdasarkan jumlah kerbau, kuda yang dimiliki.
    Seperti budak atau hamba (O’o) pada jaman nenek moyang dulu di Mauara status mereka merupakan properti milik keluarga. Kadang-kadang orang Mauara menjadi budak atau hamba (O’o) karena terjerat utang dan membayarnya dengan cara menjadi atau hamba (O’o). Budak atau hamba (O’o) bisa dibawa saat pertikaian antara kampung dalam merebut tanah di perbatasan. Budak atau hamba (O’o) bisa membeli kebebasan mereka, tetapi anak-anak mereka tetap mewarisi status budak. Budak atau hamba (O’o) tidak diperbolehkan memakai perunggu atau emas, makan dari piring yang sama dengan tuan mereka, atau berhubungan seksual dengan perempuan merdeka.
    Status yang jaman nenek moyang dulu budak atau hamba (O’o) dianggap paling hina, dengan melihat perkembangan jaman prinsip yang demikian pelan-pelan luntur dengan sendirinya karena hal yang demikian sudah tidak dipakai jaman anak cucunya sekarang. Prinsip orang-orang jaman sekarang dengan mencari dan mendapatkan pekerjaan yang layak maka dia bisa hidup dan kalau tidak bekerja tidak mungkin orang lain memberi begitu saja tanpa memperhitungkan imbalan jasa alias mendapat resiko sendiri karena untuk mendapatkan rejeki tentunya dengan melayani kepada orang lain dengan baik apakah dia sebagai pegawai, guru maupun petani atau pengusaha yang sukses.
    Berkenaan dengan perkembangan penduduk Mauara semakin meningkat otomatis mereka harus bekerja untuk mempertahankan hidup, tidak menggantungkan diri jeripayah dari orang lain untuk membantu dalam keluarga mereka sebagai tuan besar.
    Setiap orang menjadi anggota dari keluarga ibu dan ayahnya Anak, dengan demikian, mewarisi berbagai hal dari fam kakek atau nenek mereka atau saudara dari ayah keturunan garis lurus ayahnya, termasuk tanah dan bahkan utang keluarga. Nama anak diberikan atas dasar fam dari kekerabatan dekat atau nama kakek atau nenek mereka, dan biasanya dipilih berdasarkan nama keluarga yang telah meninggal. Hubungan antara keluarga diungkapkan melalui darah, perkawinan, dan berbagi rumah leluhur, secara praktis ditandai oleh pertukaran kerbau dan babi dalam ritual. Pertukaran tersebut tidak hanya membangun hubungan politik dan budaya antar keluarga tetapi juga menempatkan masing-masing orang dalam hierarki sosial: siapa yang menuangkan tuak, siapa yang membungkus mayat dan menyiapkan persembahan, tempat setiap orang boleh atau tidak boleh duduk, piring apa yang harus digunakan atau dihindari, dan bahkan potongan daging yang diperbolehkan untuk masing-masing orang.
    Berkenaan dengan hal tersebut di atas, para pemilik tanah, ternak yang banyak zaman nenek moyang dulu mereka memiliki banyak budak atau hamba (O’o) untuk membantu dalam kegiatan mereka sehari-hari. Budak atau hamba (O’o) ini diperoleh apabila mereka yang berhutang tidak dapat mengembalikan hutannya maka tenaga mereka digunakan sebagai pekerja.
    Untuk masa sekarang perkembangan anak cucu dari tahun ke tahun semakin banyak maka status budak atau hamba (O’o) pelan-pelan berakhir dengan sendirinya karena status yang dulunya budak atau hamba (O’o), dunia sekarang sudah berubah istilah roda berputar. Maksud daro roda berputar kalau melihat zaman nenek moyangnya dulu dianggap paling hina, namun ditingkat anak cucu karena dengan bekerja dan melayani dengan baik maka otomatis rejeki yang didapat datang dengan sendirinya.
    BAB II. LETAK DAN KONDISI GEOGRAFIS

    Kampung Mauara adalah sebuah kampung di pantai selatan Pulau Flores yang merupakan bagian dari desa Witu Romba Ua, Kecamatan Keo Tengah, Kabupaten Nagekeo (sebelumnya masuk wilayah Kabupaten Ngada).
    Batas-batas wilayah kampung Mauara sebagai berikut :
    a. Sebelah utara berbatasan dengan Gunung Koto
    b. Sebelah timur berbatasan dengan wilayah kampung Romba dan Ua.
    c. Sebelah barat berbatasan dengan desa Udi Wodowatu.
    d. Sebelah selatan berbatasan dengan Laut Sawu.
    Kampung Mauara adalah sebuah kampung dalam wilayah administratif Desa Witu Romba Ua, Kecamatan Keo Tengah, Kabupaten Nagekeo. Secara geografis mengikuti pola tata letak Nagekeo yakni terletak antara 8026’16,12” LS – 8054’40,24” LS dan 12105’19,52” BT – 121031’30,94” BT. Sedangkan wilayah dengan ketinggian tanah dari permukaan laut 0 – 250 m seluas 30,72% ; 251 – 500 m seluas 34,84% ; 501 – 750 m seluas 15,86% ; 751 – 1000 m seluas 10,75% ; lebih besar dari 1000 m seluas 7,83%. Kondisi iklim yang sejuk dan ketersediaan hijauan yang relatif besar sangat cocok bagi pengembangan ternak sapi. Rata-rata curah hujan di Kabupaten Nagekeo adalah 121,92 mm/thn dengan rata-rata hari hujan adalah 10 hari/tahun. Mengingat kampung Mauara adalah bagian dari Kabupaten Nagekeo, maka budaya dan adat istiadat yang berlaku di kampung Mauara saat ini mengikuti adat dan buaya wilayah Nagekeo umumnya. Ditinjau dari sisi dasar hukum Nagekeo-Kabupaten Nagekeo adalah salah satu Kabupaten di Propinsi Nusa Tenggara Timur yang terbentuk berdasarkan UU no. 2 Tahun 2007. Peresmian Kabupaten Nagekeo terlaksana tanggal 22 Mei tahun 2007 dengan luas wilayah 1.416,96 km2 dan berpenduduk 123.289 jiwa saat itu. Kabupaten Nagekeo terletak di sebelah barat dari Pulau Flores dengan ibukota kabupaten adalah Mbay. Secara administratif Kabupaten Nagekeo berbatasan langsung dengan Kabupaten Ngada dan Kabupaten Ende. Kota Mbay dihubungkan oleh transportasi jaringan jalan arteri primer yang berhubungan antara mulai dari kawasan paling timur Pulau Flores yaitu dari Larantuka (ibukota Flores Timur) menuju Kota Mbay sampai ke bagian Barat Flores yaitu di Kota Labuan Bajo (Ibukota Manggarai Barat). Sedangkan untuk mencapai Kabupaten Nagekeo dari luar Pulau Flores dapat menggunakan jalur laut melalui Pelabuhan Aimere (Kabupaten Ngada) atau pelabuhan laut di Kabupaten Ende dan jalur pesawat di Bandar Udara So’a (Kabupaten Ngada) dan Bandar Udara Hasan Aroeboesman (Kabupaten Ende). Kabupaten Nagekeo ini mengandalkan sektor pertanian, pertambangan dan penggalian serta industri sebagai sektor penggerak perkembangannya. Kabupaten Nagekeo memiliki Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (Kapet) Mbay, sehingga memungkinkan kawasan ini berkembang menjadi pusat produksi, pengolahan dan perdagangan hasil-hasil pertanian mengingat posisi strategis dan dukungan sumber daya alam yang dimilikinya. Kehadiran Kapet Mbay pada wilayah ini merupakan penggerak ekonomi yang sangat berharga bagi perekonomian Nagekeo secara keseluruhan.
    Kabupaten Nagekeo tergolong daerah yang beriklim tropis dan terbentang hampir sebagian besar padang rumput, juga ditumbuhi pepohonan seperti kemiri, asam, kayu manis, lontar dan sebagainya serta kaya dengan fauna, antara lain hewan-hewan besar, hewan-hewan kecil, unggas, binatang menjalar, dan binatang liar. Disamping itu daerah ini kaya dengan obyek wisata seperti Pantai Aina. Panorama alam seperti air panas (Puta) dan wisata budaya seperti peninggalan batu rumah adat tradisional, kesenian dan kerajinan tangan.

    BAB III
    SISTEM DAN POLA HIDUP KAMPUNG MAUARA

    3.1. Pola Hidup.
    Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan di atas, sistem pola hidup yang diharapkan masyarakat Mauara sendiri sedikit agar berbeda dengan kampung-kampung lain dalam wilayah Nagekeo dalam hal mengelola menu makanan seadanya tetapi terkesan dalam menjaga kondisi kesehatan membuat orang berumur panjang. Makanan yang dimakan oleh orang Nagekeo umumnya sumber produksinya yang asli sehingga kendatipun mengkonsumsi daging babi atau daging anjing berhari-hari tidak menimbulkan penyakit strok. Makanan yang diberikan untuk babi atau anjing juga dari sumber yang asli yang sama dengan makanan manusia yakni dari isi kelapa diparut dan ada yang langsung dicampur dengan batang pisang yang diiris (salu do muku) dan ada juga ampas kelapa setelah diperas. Kelapa yang diperas dimasak menjadi minyak dan minyak tersebut ada dikonsumsi sendiri dan ada juga dijual. Hasil isi kelapa yang diolah melalui cara tradisional (regu nio) selanjutnya dicampur dan dihancurkan melalui proses alamiah (waju one ngesu). Setelah diproses langsung diberikan kepada babi dikandang untuk dimakan sehingga tidak heran rata-rata masyarakat Mauara kebanyakan dari sektor usaha rakyat seperti pertanian, perkebunan, peternakan dan perikanan untuk membantu nafkah kehidupan sehari-hari termasuk membiayai pendidikan anak. Dari sektor pertanian seperti jagung, kacang hijau, kacang putih, bengkoang (isi seko) ubi-ubian (uwi kaju, uwi sura, uwi tanpa nama), labu (togu), pisang dll. Dari sector perkebunan seperti pohon kelapa dan hidup mereka rata-rata hanya mengharapkan lebatnya buah kelapa dipohon untuk diproduksi. Dari sector peternakan seperti kerbau, kuda, kambing, anjing, ayam dll. Dari sektor perikanan rata-rata bagi mereka yang beragama islam hidupnya rata-rata mencari ikan dilaut dan hasilnya dijual atau tukar dengan bahan hasil-hasil pertanian. Untuk acara pesta adat masyarakat Mauara harus rajin memelihara hewan (mbunggu dara) seperti kerbau, kambing, doma, babi, anjing dan piara babi untuk meringankan beban pada saat kegiatan upacara dimaksud. Namun akhir-akhir ini hewan pemeliharan seperti kerbau, domba dan anjing berdasarkan pemantauan penulis sudah jarang ditemukan. Seperti anjing sesuai informasi yang penulis peroleh sudah hampir punah, hal ini disebabkan ada yang dengan sengaja mau menyebarkan virus rabies agar anjing tidak dapat berkembang. Sebenarnya anjing ini yang diharapkan oleh penduduk Mauara yang digunakan dalam pelaksanaan upacara adat masuk minta dimana pihak laki-laki mau melamar calon yang akan dijadikan istrinya. Persyaratan yang harus dipenuhi oleh pihak keluarga laki-laki mereka harus menyedikan anjing untuk keluarga dari pihak perempuan pada saat datang melamar, sebaliknya pihak keluarga perempuan harus menyediakan babi untuk menjamu pihak kelurga laki-laki yang datang melamar. Masyarat Mauara juga mempunyai keahlian dalam membuat tenunan kain adat (duka, dawo) dan hal ini merupakan ciri kas orang Mauara karena dari hasil kerajinan itu mereka menjual untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan juga digunakan pada saat acara pesta adat seperti acara perkawinan, adat kematian dan lain-lain sesuai budaya setempat.
    Sehubungan uraian yang telah kami kemukakan di atas, faktor lain yang perlu dipertimbangkan yakni tanah yang dijadikan ahli waris terbatas dan tidak berkembang, sedangkan perkembangan anak cucu yang semakin meningkat, maka untuk itu perlu di bangun suatu mekanisme agar diatur dengan baik sesuai kondisi lokal yang ada. Hal ini perlu dipikirkan karena tuntutan hidup dan roda perputaran ekonomi bagus atau tidak bagus tergantung dari kondisi lokal yakni mengingat tanah yang dijadikan ahliwaris tidak bertambah dan faktor lain anak cucunya semakin bertambah. Prosedur dan aturan yang berlaku dimasyarakat boleh ditegakan, tetapi tuntutan hidup sulit ditegakan karena menyangkut perut mau diisi atau dibiarkan dan kalau dibiarkan tentunya menjadi korban nyawa (mati karena kelaparan). Kalau soal aturan yang berlaku dimsyarakat semuanya bisa diatur asal isi perut bisa dijamin.
    3.2. Cerita Perkembangan Masa Lalu
    Orang-orang yang diluar kampung Mauara yang boleh dikata mata pencahariannya cukup lumayan, mereka mengagumi orang-orang yang berasal dari kampung Mauara dan mereka mengatakan bahwa kebanyakan anaknya pintar-pintar dan sekolahnya banyak yang berhasil. Alasan mereka karena sumber mata pencaharian di Mauara kalau hanya diharapkan dari buah kelapa atau mengolah di tanah yang kering (tana tuu watu alu) tentu tidak dapat menciptakan sumber daya manusia yang diharapkan oleh Negara untuk membangun masa depan yang gemilang. Masyarakat diluar kampung Mauara boleh dikata sudah memiliki tanah sawah yang sudah nyata bisa menyekolahkan anak ternyata tidak nampak jalan menuju perubahan dan kemajuan dibidang pendidikan walaupun usaha mereka berhasil sedangkan hanya hidup ditanah kering anak-anaknya banyak yang berhasil dibidang pendidikan.
    Untuk menciptakan sumber daya manusia cerdas yang diharapkan oleh negara di Mauara telah dibangun Sekolah Dasar Negeri Mauara sejak tahun 1965 (sebelumnya anak-anak numpang sekolah di SDK Romba), dengan maksud agar sumber daya manusianya dapat berpikir cerdas dalam hal cara bertindak untuk menentukan langkah-langkah masa depan yang gemilang sebab kemajuan ditentukan oleh kesiapan yang matang dalam menentukan sesuatu yang berguna bagi dirinya sendiri, keluarga dan masyarakat banyak. Selama anak-anak mengikuti sekolah di SDK Romba yang berkesan pada saat itu mereka diajar oleh seorang guru bernama Stanis Dhima mengajarkan tentang Apa itu Komba Kalo ? ada hubungannya dengan lokasi tanah di Keka Angi (sebelah selatan dari kampung Ua) yang dulunya terkenal dengan hutan yang diselimuti dengan daun yang berduri (komba kalo).
    Murid SDN Mauara pada saat itu tahun pertama berjumlah … orang, tahun kedua untuk kelas 1 (satu) berjumlah…. Orang, tahun ketiga kelas 1 (satu) berjumlah…. Orang, tahun keempat untuk kelas 1 (satu) berjumlah 18 Orang. Gedung sekolah pada saat itu masih berlokasi ditanah milik bapak/embu Haji Ibrahim. Bentuk bangunannya masih bersifat darurat, dindingnya dibuat dari pelepah kepala yang dibuat dan disusun secara rapih (kobha tende). Strategi digunakan mengingat masyarakat Mauara tingkat perekonomiannya masih rendah, hal ini ditandai bahwa anak-anak yang masuk sekolah hanya memakai sarung (pake kote) dan bahkan anak laki-laki tidak pakai baju. Demikian juga alat tulis yang digunakan anak sekolah untuk kelas satu sampai tiga menggunakan alat tradisional yang dibuat dari papan tipis dan dihitami (batu kala). Cara kerja sederhana (koi doa uma, posi ta ae, campur dengan arang). Pada tahun 1968 Guru yang mengajar pada saat itu hanya dua orang untuk kelas I s/d kelas IV dengan kepala sekolah Bpk Hasan Tenda dan guru pembantunya pak Bar Soo. Untuk kelas I s/d 3 menggunakan alat tulis yang dibuat dari alat tradisional yang sederhana (bahasa daerah Batu kala) dan untuk kelas IV diajar oleh pak Guru Bar Soo. Cara mengajar supaya anak dapat didik dengan baik pada jam yang sama (jam 07.00 wita s/d jam 10.00 wita) kelas I masuk kelas dan kelas II hafal kali-kali diluar. Setelah kelas I keluar bergantian dengan kelas II masuk kelas. Posisi SDN Mauara sudah kelas VI baru ada penambahan guru sehingga guru semuanya menjadi 5 orang yakni Guru Hasan Tenda sebagai kepala sekolah ditambah Guru Bar Soo, Guru Pius Aka, Guru Benyamin Beri dan Guru Hamin (adik kandungnya Guru Hasan Tenda). Guru Pius Aka kejam tetapi dengan maksud agar anak didiknya menjadi pintar dan nasib dikemudian hari bisa berubah menjadi baik. Hal ini ditandai dengan setiap pertanyaan terutama berhitung kalau ditanya tidak bisa dijawab menggunakan budaya pukul terutama anak kandungnya sendiri ditanya salah dijawab sendalnya yang dipakai diambil langsung memukul anaknya sendiri. Cara lain yang dibuatnya yakni memberikan pertanyaan bergilir dan bagi yang bisa dijawab, dia perintahkan untuk memukul dengan kayu kepada yang tidak bisa dijawab. Kendatipun ada guru yang kejam dan suka memukul sekarang ini orang Mauara boleh berbangga, karena saat ini sudah banyak anak didiknya sudah bernasib baik seperti sudah ada yang bekerja di instansi pemerintahan (pegawai negeri), guru dan wiraswasta yang berhasil. Dibidang keimanan yang percaya kepada Tuhan, masyarakat membangun Kapela di Mauara dalam lingkup Paroki Maunori pada tahun 1968 dan yang mempelopori untuk membangun Gereja pada saat itu adalah Guru Pius Aka dengan maksud selain bekerja kebun, panjat kelapa atau pekerjaan lain selalu mengingat akan Tuhan dengan cara setiap hari minggu atau hari raya umat katolik datang sembahyang atau berdoa di Kapela. Untuk mengajarkan kepada masyarakat banyak yang masih status kafir menjadi untuk masuk menjadi agama katolik adalah Siprianus Dea dan salah satu ajarannya mengatakan bahwa kayu untuk menutup pintu (usu pene) Surga panjangnya kira-kira dari Mauara sampai Ende. Lokasi Gereja Katolik (Kapela Mauara) dulunya milik bapak Pius Ndoa (sehari-hari dipanggil Ndoa Wae) ditukar dengan lokasi tanah milik umum orang Mauara di Keka Angi seperti yang disebutkan di atas. Pada awal tahun 1970 keatas lokasi tanah di Keka Angi diperkarakan dengan penggugat Bapak Gaspar Waja (pimpinan deke Embu Ritu). Sebab menurut Bapak Gaspar Waja bahwa tanah di Keka Angi adalah milik deke Embu Ritu, sedangkan masyarakat kampung mengatatakan bahwa tanah di Keka Angi adalah milik masyarakat Mauara. Dengan adanya perkara tersebut kampung Witu dan kampung Mauara dengan sendirinya membagi 2 blok yaitu Blok A adalah masyarakat Mauara dan Blok B adalah mereka yang tidak mau ikut campur tangan tentang masalah tanag di Keka Angi alias bertindak sebagai Pilatus.

    BAB IV. SEJARAH NENEK MOYANG

    4.1. Asal Usul Nenek Moyang
    Menurut cerita para leluhur mengatakan bahwa nenek moyang sesuai urutan yang paling mendahului yang sempat diingat adalah Embu Sadhu Mbe’e dengan istrinya Embu Pau asal dari kampung Pajo Reja. Pasangan ini sehingga dicatat dan dimasukan kedalam silsilah keluarga besar Mauara karena dalam turunannya pengaruh kawin mengawin sehingga berkembang pesat anak cucunya berkembang pesat di Mauara sekarang ini.
    Riwayat Embu Sadhu Mbe’e kawin dengan Pau melahirkan anak bernama Ndana. Selanjutnya embu Ndana kawin dengan Leku Bhoko dari Jawawo melahirkan 2 orang anak bernamaTuku Ndana dan Gudhu Ndana. Tuku Ndana mendapat suami bernama Nggajo Nanga melahirkan 5 orang anak masing-masing bernama (1) Gati Tuku suami dari Nida Tolo melahirkan Mado, Wea, Rangga dan Jawa. Veto. (2) Veto Tuku belum tahu jelas hanya menurut om Goris Jae mengatakan untuk mendapatkan infomasi yang jelas dari keluarga ini yang lebih tahu persis di Kampung Giriwawo. Kemungkinan orang di Giriwawo adalah keturunan dari dari Veto Tuku. (3) Ndiwa Tuku kawin dengan istrinya bernama Ngode Bude melahirkan 3 orang anak bernama Ndore Ngode, Badia Ngode dan Keka Ngode. Ndore Ngode (Romba) kawin dengan Goo melahirkan Ndiwa dan Tuku. Ndiwa Goo kawin dengan Ngode melahirkan Nggajo Ngode dan Gabriel Ngode (Nama-nama ini sumber datanya masih belum lengkap, mohon masukan dari sumber yang mengetahuinya). Hanya Tuku Goo turunannya adalah Usman Bake dan Guru Tuku. (4). Mite Tuku mengenai anak dan istrinya belum tahu jelas hanya menurut om Goris Jae mengatakan untuk mendapatkan infomasi adalah keturunan dari Bapak Blasius Biku. (5). Ude Tuku kawin keluar (nuka sa’o) di Wuji dan data keturunannya belum diketahui dengan jelas. Kelima nama embu tersebut menurut om Goris Djae mengatakan mereka-mereka tersebut tinggal terpencar sesuai dengan hak warisannya masing-masing.
    4.1.1.Riwayat Generasi Ketiga (Anak dari Embu Leku Bhoko dan Embu Ndana).
    4.1.1.1. Silsilah Keluarga Embu Tuku Ndana
    Embu Tuku Ndana kawin dengan Embu Nggajo Nanga melahirkan 4 orang anak laki-laki yakni Gati Tuku (Jawawo), Veto Tuku (Giriwawo), Ndiwa Tuku, Mite Tuku dan 1 orang anak perempuan bernama Ude Tuku (Wuji). Dari kelima anaknya Embu Tuku Ndana kawin dengan Embu Nggajo Nanga tersebut di atas, riwayat keturunannya seperti berikut ini.
    1. Riwayat Silsilah Keluarga Embu Gati Tuku.
    Embu Gati Tuku mengambil istri anaknya Embu Ritu Dea bernama Nida Tolo (saudara perempuan dari Wadja Tolo dan Kami Tolo) melahirkan Embu Mado Nida, Rangga Nida dan Djawa Nida. Riwayat ketiga anaknya Embu Gati Tuku dan Embu Nida Tolo menurut pendapat keluarga Benediktus Babo Goo di Gilikoli dan keluarga Eo Goo Tonggo sewaktu berbincang-bincang di Rantedosa Ambai mengatakan bahwa embu Rangga keturunan sampai dengan keluarga embu Sawo (Haji Ibrahim) dan embu Jawa sampai dengan keluarga Jago Beku di Maukeli. Penulis menanyakan jalur keturunan sampai dengan Embu Sawo (Haji Ibrahim) dan jalur keturunan embu Jawa sampai dengan keluarga Jago Beku di Maukeli beliau belum mengetahui jalur ceritanya. Untuk itu status kedua Embu Rangga Nida dan turunan Embu Djawa Nida masih ditelusuri jalur keturunan sampai dengan anak cucunya sekarang. Mengenai turunan Embu Mado Nida dan istrinya Embu Goo Ue di Mauara melahirkan Dhima Goo, Dhae Goo, Ue Goo dan Babo Goo (saudara se ibu dengan Ora Nena) dan riwayat keturunan Embu Mado Nida ini akan diuraikan dan dijelaskan pada sub bab Silsilah Keluarga Embu Ritu Dea.
    2. Riwayat Silsilah Keluarga Embu Veto Tuku.
    Data tentang keluarga Embu Veto Tuku ini kami belum dapatkan dari sumber yang mengetahui terutama dari anak cucunya, hanya menurut om Goris Djae di Mauara mengatakan bahwa Untuk mendapatkan informasi tentang keluarga ini dicari tahu pada keluarga anak cucunya di Giriwawo
    3. Embu Ndiwa Tuku kawin dengan Ngode Bude dari Mundemi melahirkan 3 orang anak yakni Ndori , Keka dan Badi. Selanjutnya Keka Ngode kawin dengan Ui Bunga melahirkan Wadjo, Taa, Rangga, Tuku dan Ngatu. Jalur cerita yang jelas belum sempat kami tanyakan kepada sumber yang mengetahui persis karena rata-rata nenek moyang yang mengetahuinya kebanyakan sudah menghadap sang khalik. Jadi untuk silsilah keluarga Embu Ndiwa Tuku tetap kami usahakan untuk menelusuri perkembangan sampai dengan anak cucunya sekarang kemanapun mereka berada. Data tentang keluarga Embu Ndiwa Tuku ini baru sebagian kecil yang kami dapatkan dan masih banyak yang perlu dicaritahu status keberadaan mereka terutama dari anak cucunya, hanya menurut om Goris Djae di Mauara mengatakan bahwa
    4. Riwayat Silsilah Keluarga Embu Mite Tuku.
    Data tentang keluarga Embu Mite Tuku ini kami belum dapatkan dari sumber yang mengetahui terutama dari anak cucunya, hanya menurut om Goris Djae di Mauara mengatakan bahwa Untuk mendapatkan informasi tentang keluarga ini dicari tahu keluarga ini adalah keluarga Blasius Biku di Jawawo.
    5. Riwayat Silsilah Keluarga Embu Ude Tuku.
    Embu Ude Tuku ini adalah anak perempuan dari Tuku Ndana dan suaminya Nggadjo Nanga dan data tentang keluarga Embu Ude Tuku ini kami belum dapatkan dari sumber yang mengetahui terutama dari anak cucunya, hanya menurut om Goris Djae di Mauara mengatakan bahwa untuk mendapatkan informasi tentang keluarga ini dicari tahu keluarga di kampung Wuji. Kemungkinan orang-orang di Wuji nenek moyangnya adalah Embu Ude Tuku.
    3.1.1.2. Riwayat Silsilah Keluarga Embu Gudhu Ndana
    Riwayat tentang Embu Gudhu Ndana data tentang keluarga ini kami belum kami peroleh dari sumber yang mengetahui terutama dari anak cucunya, hanya menurut om Goris Djae di Mauara mengatakan bahwa untuk mendapatkan informasi tentang keluarga ini dicari tahu pada keluarga Ua Goo di Jawawo.
    Berdasarkan penjelasan tersebut kami telah berusaha dengan berbagai macam cara agar semua data keluarga ini bisa terhimpun agar anak cucu kita baik yang masih berdomisili di wilayah Kecamatan Keo Tengah, maupun yang berdomisili di tanah rantauan orang istilah bahasa adat mengatakan bahwa rohnya masih bersatu dengan nenek moyang di Mauara (ma..e u.. kita ne’e ine embu pu’u Mauara). Supaya ine embu kita ngada pepe modo mbana ria tau pawe nee ata, karena hal ini menyangkut dengan masalah kesehatan (badan sakit tetapi diperiksa dokter ternyata tidak ada penyakit) karena tidak mengingat dengan aturan hukum adat.
    Dari ketiga anaknya Embu Gati Tuku dan Embu Nida Tolo tersebut, yang kami sudah memperoleh data keturunannya adalah anak-anak dari Embu Mado Nida. Mengenai Anak-anaknya ini justru berkembangbiak di Mauara termasuk memegang hak ahli waris dari nenek moyang di Mauara dari pihak turunan peremuan (anak weta) dari Embu Ritu Dea.
    Kalau dilihat hak pusaka yang seharusnya mengikuti jalur garis lurus dari bapak mereka semua posisi berada di Jawawo, sedangkan keberadaan mereka di Mauara jalur ceritanya Embu Mado Nida kebetulan istrinya anak om kandungnya yaitu Embu Goo Ue anak dari Embu Wadja Tolo masih keturunan Embu Ritu Dea.
    Pasangan ini melahirkan anak bernama Dhima, Dhae, Ue dan Babo. Mengenai Embu Goo Ue ini dia juga sudah ada suami bernama Djari Ndara melahirkan anak bernama Ora yang sering disebut Ora Nena. Riwayat selanjutnya nanti dihubungnan kembali dengan turunan Embu Ritu Dea yang akan diceritakan pada jalur silsilah keluarga Embu Ritu Dea.
    Dalam silsilah keluarga Embu Gati Tuku dan Embu Nida Tolo yang sempat kami himpun adalah keturunan Embu Mado Nida, sedangkan kedua anaknya Embu Rangga Nida dan Embu Jawa Nida sumber datanya belum kami peroleh dari sumber yang mengetahui tentang riwayat kedua anaknya Embu Gati Tuku ini.
    Mengenai Embu Veto, Mite dan Ude belum sempat kami tanyakan kepada Om Goris Jae dan beliau mengatakan posisi Embu Mite informasi yang jelas pada Bapak Blasius Biku, Embu Veto Tuku informasi di Giriwawo dan Embu Ude Tuku informasi di kampung Wudji.
    1. Silsilah Keluarga Embu Gudhu Ndana.
    Selanjutnya anaknya Embu Leku Bhoko dan Embu Ndana Pau bernama Embu Gudhu Ndana data keturunan sumbernya belum diketahui dengan jelas dan menurut om Goris Jae mengatakan untuk informasi yang jelas adalah Bapak Ua Goo di Jawawo
    Sehubungan dengan penjelasan tersebut di atas, keterkaitan hubungan Embu Ritu Dea dengan Embu Sadhu Mbe’e terletak pada hubungannya dengan Embu Gati Tuku yakni Embu Gati Tuku mengawini Nida Tolo anaknya Embu Ritu Ea.
    Berkenaan dengan penjelasan di atas dimana Embu Sadhu Mbee kawin dengan Embu Pau dari Padjo Reja melahirkan Ndana. Selanjutnya Ndana kawin dengan suaminya Leku Bhoko dari Djawawo melahirkan Tuku dan Tuku kawin dengan Nggadjo Nanga melahirkan Gati dan Gudhu. Berarti anak cucunya Embu Sadhu Mbee yang bernama Gati Tuku kawin dengan anaknya Embu Ritu Dea bernama Nida Tolo berarti antara Embu Sadhu Mbee dengan Embu Ritu Dea statusnya dua tangga kebawah karena Embu Gati Tuku memandang Embu Sadhu Mbee sebagai kakek. Jadi orang pertama masuk Mauara belum tentu Embu Ritu Dea, Embu Ndoa, Embu Bia dan Embu Tolo Ndoa. Selanjutnya saudara kandung dari Embu Mado Nida seperti Embu Rangga dan Embu Jawa menurut pendapat keluarga Benediktus Babo Goo di Gilikoli dan keluarga Eo Goo Tonggo sewaktu berbincang-bincang di Rantedosa Ambai mengatakan bahwa embu Rangga keturunan sampai dengan keluarga embu Sawo (Haji Ibrahim) dan embu Jawa sampai dengan keluarga Jago Beku di Maukeli. Penulis menanyakan jalur keturunan sampai dengan Embu Sawo (Haji Ibrahim) dan jalur keturunan embu Jawa sampai dengan keluarga Jago Beku di Maukeli beliau belum mengetahui jalur ceritanya. Untuk itu sangat diharapkan kepada para pembaca tulisan ini bila mengetahui jalur ceritanya mohon informasikan kepada penulis agar dalam penyusunan ini lebih lengkap dan generasi penerus dapat mengenal status keluarganya kemanapun mereka pergi ke tanah rangauan. Untuk itu status kedua Embu Rangga Nida dan turunan Embu Djawa Nida masih ditelusuri asal usul sampai anak cucunya sampai turunan terakhir. Untuk itu disarankan kepada pembaca tulisan ini mohon berikan masukan yang positif tentang data keluarga dan disampaikan kepada kami untuk dilengkapi.
    Untuk mengetahui dengan jelas nama-nama keluarga Embu Sadhu Mbee dapat dilihat seperti pada Tabel. 2.
    4.1.1.2. Riwayat Silsilah Keluarga Embu Ritu Dea.
    Silsilah keluarga ini teknik penulisannya diambil berdasarkan garis keturunan garis lurus ditambah dengan hubungan suami istri karena ada kawin masuk (status perempuan mengikuti suami pada keluarga ini) dan kawin keluar perempuan (ana weta) mengikuti suami ke tempat lain. Kalau ditinjau dari hukum adat status hak phhak perempuan (ana weta) mereka harus keluar dari keluarga ini, namun pengaruh hubungan darah untuk mengenal lebih dekat kendatipun hak pusaka mereka berada ditempat lain maka dalam buku ini masih tetap dicatat. Bagi perempuan yang masih bertahan pada keluarga ini apabila statusnya untuk menduduki hak apabila garis keturunan garis lurus tidak ada anak laki-laki yang diberikan hak untuk memegang ahli waris.
    Berdasarkan hasil penelitian yang penulis telusuri ternyata turunan keluarga Embu Ritu Dea sudah banyak dan kebanyakan sudah tidak mengenal satu sama lain terutama generasi anak cucu semakin bertambah. Dengan adanya perkembangan teknologi semakin canggih akibat jodoh dengan suku-suku lain terutama bagi generasi anak cucu yang merantau sudah tidak kembali lagi ke kampung halaman nenek moyangnya. Bertambahnya generasi anak cucu di daerah-daerah lain kebanyakan sudah tidak mengenal lagi dari mana seharusnya nenek moyang mereka di Mauara. Faktor lain pengaruh budaya dan adat di Mauara masih berpegang pada warisan nenek moyang, untuk turunan garis lurus kebanyakan tidak mau kembali lagi ke Mauara dan rasanya mereka merasa lebih nyaman mencari hidup di daerah orang lain.
    Dalam kitab cuci yang penulis kutip dari injil Lukas Pasal 2 ayat 1 sampai ayat yang ke 7 dijelaskan bahwa Kaisar Agustus mengeluarkan suatu perintah untuk mendaftarkan diri masing-masing di kotanya sendiri. Untuk orang-orang yang keluar dari Mauara apakah sampai saat ini sudah mengikuti jejak perintah Kaisar Agustus, seperti pimpinan Mosadaki untuk memerintahkan orang-orang yang berasal dari Mauara untuk kembali mendaftarkan diri ke kampung halamannya masing-masing. Tentu hal ini menjadi tanda tanya karena persediaan warisan nenek moyang di Mauara apakah mampu untuk menampung keluarga-keluarga yang sudah berada di Perantauan.
    Berdasarkan penulis telusuri ternyata banyak keluarga-keluarga turunan Embu Ritu Dea sampai saat ini sudah tidak mengenal lagi satu sama lain, maka untuk itu terdorong penulis untuk menginventarisir generasi anak cucu Embu Ritu Dea kemanapun mereka berada agar bisa saling mengontak dan mencaritahu hubungan darah mereka dari status nenek moyang yang sama.
    Berkenaan dengan penjelasan di atas dimana Ritu Dea kawin dengan Embu Tolo melahirkan 2 orang anak laki-laki bernama Embu Kami Tolo, Embu Wadja Tolo dan 1 orang anak perempuan bernama Embu Nida Tolo. Dari ketiga anaknya Embu Ritu Dea ini masing-masing Embu Kami Tolo kawin dengan Embu Mbupu melahirkan 2 orang anak bernama Embu Wadja Mbupu dan Embu Wea Mbupu. Mengenai Embu Wadja Tolo kawin dengan Embu Ue Sangu melahirkan 5 orang anak bernama Ude Ue, Pati Ue, Goo Ue, Wewo Ue dan Ea Ue. Sedangkan Embu Nida Tolo kawin dengan suaminya Embu Gati Tuku (cucunya Embu Sadhu Mbe’e) melahirkan 3 orang anak bernama Mado Nida, Rangga Nida dan Djawa Nida.

    4.1.1.3 Riwayat Silsilah Keluarga Embu Kami Tolo.
    Pasangan Kami Tolo melahirkan 2 orang anak yakni Wadja dan Wea. Menurut cerita dari anak cucunya Embu Kami Tolo mengatakan bahwa nenek moyang mereka berasal dari Rumah adat Witu (Sa’o Sumbu). Berarti Embu Kami Tolo sebenarnya juga menduduki hak di deke Embu Ritu hanya jalur keturunan sampai anak cucunya masih ditelusuri. Berdasarkan data yang kami peroleh bahwa Embu Kami Tolo mengambil istrinya bernama Mbupu melahirkan 1 orang perempuan bernama Embu Wea Mbupu dan 1 orang laki-laki bernama Embu Waja Mbupu. Embu Wea Mbupu melahirkan 6 orang anak bernama Rendo, Rangga, Monda, Ngula, Ae dan Ora. Posisi keberadaan anak cucunya sampai sekarang kebanyakan sudah tidak saling mengenal asal usul nenek moyangnya, namun demikian sempat kami tanyakan langsung kepada anak cucunya Embu Kami Tolo bahwa keberadaan mereka ada yang di kampung Romba dan ada juga di kampung Dere Dina Desa Kota Gana, Kecamatan Mauponggo.
    Selanjutnya hubungan perkawinan (papa mada wado koo weki dhato), kami belum memperoleh data yang persis tentang generasi anak cucu Embu Kami Tolo kawin (papa mada wado koo weki dhato) dengan anak cucunya Embu Wadja Tolo dan anak cucunya Embu Nida Tolo. Berdasarkan data yang penulis telusuri kebanyakan yang terjadi adalah hubungan perkawinan antara sesama turunan Embu Wadja Tolo atau antara turunan Embu Wadja Tolo dengan turunan Embu Nida Tolo atau juga hubungan perkawinan antara trunan Embu Nida Tolo sendiri.
    Untuk turunan Embu Kami Tolo data anak cucunya sebagian kami sudah catat dan data ini kami peroleh pada anak cucunya sendiri. Untuk penulisan ini pertama-tama kami telusuri silsilah keluarga Embu Kami Tolo yakni Embu Kami Tolo mengambil istri bernama Mbupu melahirkan 2 orang anak yakni Wadja dan Wea. Menurut cerita dari anak cucunya Embu Kami Tolo mengatakan bahwa nenek moyang mereka berasal dari Rumah adat Witu (Sa’o Sumbu). Berarti Embu Kami Tolo sebenarnya juga menduduki hak di deke Embu Ritu hanya jalur keturunan sampai anak cucunya masih ditelusuri. Embu Kami Tolo kawin dengan Embu Mbupu melahirkan 1 orang perempuan bernama Embu Wea Mbupu dan 1 orang laki-laki bernama Embu Waja Mbupu. Embu Wea Mbupu melahirkan 6 orang anak bernama Rendo, Rangga, Monda, Ngula, Ae dan Ora. Sedangkan Embu Wadja Mbupu belum sempat kami peroleh data keluarganya, sedangkan turunan Embu Wea Mbupu generasi anak cucunya mengatakan bahwa Embu Kami Tolo kawin dengan Mbupu melahirkan 2 orang anak yaitu Embu Wadja Mbupu dan Embu Wea Mbupu. Riwayat tentang keturunan Embu Wadja Mbupu kami belum memperoleh datanya yang lengkap, hanya melalui telepon yang kami tanyakan kepada anak cucunya bernama ine Agata Ndetu mengatakan bahwa Embu Rendo Wea mempunyai istri bernama Anastasia Bhala melahirkan 3 orang anak bernama Nembo, Kota dan Ea. Selanjutnya Embu Rendo Wea kawin lagi istri dengan istri saudaranya yakni istri dari Alowitu bernama Anastasia Bhala melahirkan 4 orang anak bernama Hendrikus Siu, Margareta Ndetu, Ermin Ora dan dan Donatus Mere. Jadi kalau dilihat dari anak-anak dari ine Anastasia Bhala berarti jumlah anaknya berjumlah 7 orang yakni 3 orang dia dengan pasangan suaminya Embu Alowitu dan 4 orang dengan pasangan suaminya Embu Rendo.
    Selanjutnya kalau dilihat dari turunan Embu Rendo ternyata Embu Rendo mempunyai 2 istri, Pertama dia kawin dengan istrinya bernama ine Ngguwa Ude melahirkan Nembo, Kota dan Ea. Kedua dia kawin lagi dengan Anastasia Bhala melahirkan Hendrikus Siu, Margareta Ndetu, Ermin Ora dan dan Donatus Mere. Sumber data ini kami peroleh dari ine Agata Ndetu di Unit Pemukiman Transmigrasi Modo Satu, Kabupaten Buol. Data lain yang kami susun ini dan sifatnya berupa gambaran umum turunan Embu Wea Mbupu kami peroleh dari bapak Hilarius Jawa di Watu Dhoge pada saat meninggalnya Bapak Andreas Meo (anak cucunya Embu Wadja Tolo dan Embu Nida Tolo).
    4.1.1.4. Riwayat Silsilah Keluarga Embu Wadja Tolo dan Embu Nida Tolo.
    Selanjutnya Embu Wadja Tolo mengambil istri bernama Ue Sangu melahirkan anak bernama Ude Ue, Pati Ue, Goo Ue, Wewo Ue dan Ea Ue. Sedangkan Embu Nida Tolo adalah anak perempuan dari anaknya Ritu Dea kawin dengan Gati Tuku suaminya di Jawawo. Gati Tuku ini adalah putera dari Nggajo Nanga dan Tuku Ndana. Untuk Nggajo Nanga ke atas saya belum tahu, hanya istrinya Nggajo Nanga bernama Tuku Ndana adalah adalah Puteri dari hasil perkawinan Embu Ndana Pau dan Leku Bhoko. Mengenai Embu Pau ine koo Embu Ndana menurut om Goris Jae di Mauara mengatakan bahwa Embu Pau ini asalnya dari kampung Pajoreja, sedangkan Embu Sadhu Mbee bapa koo Embu Ndana Pau asalnya dari kampung Jawawo. Silsilah Embu Sadhu Mbe’e dan Embu Pau ini turunannya sampai sekarang sudah terpencar dimana-mana sehingga anak cucunya sudah tidak saling mengenal, pada hal mereka semua masih berada pada posisi nenek moyang yang sama.
    Keturunan Embu Wadja Tolo kawin dan Embu Ue Sangu semacam ada keterikatan kontrak dengan keturunan Embu Gati Tuku sebab salah satu anaknya Embu Gati Tuku bernama Mado Nida kawin lagi dengan saudara sepupunya (anak om kandung) bernama Embu Ue Sangu anaknya Embu Waja Tolo melahirkan Dhima, Dhae, Ue dan Babo.
    Mengenai anaknya Embu Wadja Tolo dan istrinya Embu Ue Sangu melahirkan 1 orang anak laki-laki bernama Ude Ue dan 4 orang anak perempuan bernama Pati Ue, Goo Ue, Wewo Ue dan Ea Ue. Selanjutnya kalau dilihat dari status garis lurus bapa yang seharusnya memegang hak ahli waris adalah anak ini 1 orang anak laki-laki dari Embu Wadja Tolo bernama Ude Ue (keturunan garis lurus). Yang menjadi masalah sampai dengan generasi anak cucu harta warisan yang sesungguhnya diberikan kepada pihak turunan bapa, ternyata putus di generasi Embu Ude Ue karena Embu Ude Ue dan istrinya Embu Nena tidak ada anak baik laki-laki maupun perempuan.. Dari Embu Wadja Tolo yang diberi hak untuk menetap yaitu menduduki dan mengolah tanah hak warisan ayahnya. Untuk keempat anak perempuan ini masing-masing bernama Pati Ue, Goo Ue, Wewo Ue mereka adalah kawin keluar mengikuti suaminya (nuka sa’o) antara lain Embu Pati Ue mengikuti suaminya Embu Djogo Ndara dan posisi anak cucunya berada pada keluarga Embu Djogo Ndara. Mengenai Embu Goo Ue kawin keluar mengikuti suaminya (nuka sa’o) mengikuti suaminya Embu Djari Ndara melahirkan anak bernama Ora yang sekarang Embu Ude Ue mengangkatnya menjadi anaknya sendiri. Selanjutnya belum ada cerita yang jelas dari leluhur (pihak ine embu) tentang Embu Goo Ue, apakah setelah Embu Djari Ndara meninggal atau cerai, hanya posisinya Embu Goo Ue kawin lagi dengan Embu Mado Nida di Jawawo menurut cerita dari orangtua dulu, warisan anak cucunya Embu Mado Nida sebenarnya di Jawawo. Sedangkan Embu Wewo ada 2 suami yakni (a). Suami pertama dengan Embu Piru Bhala melahirkan Embu Wudu, Embu Soo, Embu Wae, Embu Meo. (b). Suami kedua dengan Embu Bheda Mema melahirkan Embu Ndero, Embu Kaka, Embu Tolo dan Embu Wini. Sebenarnya anak-anak mereka hak warisan mengikuti ayah mereka masing-masing.
    Embu Ea mengikuti Dewa Tonggo dan mengenai perjalanan hidupnya penulis mengetahui jalan ceritanya), demikian juga Embu Pati Ue mengikuti suaminya Djogo Ndara perjalanan hidupnya penulis juga mengetahui jalan ceritanya.
    Untuk jelasnya riwayat dari kelima anaknya Embu Wadja Tolo masing-masing seperti berikut ini.
    4.1.1.4. Riwayat Silsilah Keluarga Embu Nida Tolo.
    1. Turunan Embu Wadja Tolo.
    Dari kelima orang anak ini status hak pusaka yang diwariskan oleh Embu Waja Tolo adalah 1 orang anak laki-laki bernama Embu Ude Ue (mera da’e) dan 4 anak adalah pihak anak perempuan (nuka sa’o) masing-masing dengan penjelasan sebagai berikut :
    1.1. Status Embu Ude Ue.
    Mengenai Embu Ude Ue mengambil istri sah bernama Nena (belum diketahui jelas asal dari istrinya) dan hasil perkawinannya tidak mempunyai anak. Oleh karena mereka tidak mempunyai anak seperti yang telah disebutkan di atas , maka untuk melanjutkan keturunan garis lurus yang seharusnya dipegang hak warisan oleh anak laki-laki, maka Embu Ude Ue mengambil anak dari saudara perempuannya bernama Goo Ue yang bernama Ora dan diberi nama Ora Nena untuk yang dijadikan sebagai keturunan yang sah. Ora Nena sebenarnya adalah anak dari suami istri bernama Jari Ndara dan Goo Ue melahirkan anak Ora yang sekarang disebut Ora Nena karena Embu Ude Ue mengangkat menjadi anaknya sendiri (ana mera da’e Embu Ude Ue), maka nama Ora Goo namanya dirubah menjadi Ora Nena.
    Selanjutnya Embu Ora Nena mengambil istri bernama Kutu dan Mbojo dan hasil perkawinannya ternyata juga tidak mempunyai anak. Oleh karena tidak mempunyai anak dia memanggil Dhima Goo dari Jawawo untuk menduduki di hak pusaka (ku lema) Mauara bersama dengan istrinya Embu Dhima Goo bernama Tolo Eju. Sewaktu mereka dipanggil Embu Ora Nena ke Mauara Embu Dhima Goo membawa bersama keponakannya (ana podu) dari Embu Tolo Edju bernama Embu Wea Bhoko bersama dia ke Mauara di tempat warisan Embu Ora Nena. Selanjutnya saudara kandung dari Embu Mado Nida seperti Embu Rangga dan Embu Jawa menurut pendapat keluarga Benediktus Babo Goo di Gilikoli dan keluarga Eo Goo Tonggo sewaktu berbincang-bincang di Rantedosa Ambai mengatakan bahwa embu Rangga keturunan sampai dengan keluarga embu Sawo (Haji Ibrahim) dan embu Jawa sampai dengan keluarga Jago Beku di Maukeli. Penulis menanyakan jalur keturunan sampai dengan Embu Sawo (Haji Ibrahim) dan jalur keturunan embu Jawa sampai dengan keluarga Jago Beku di Maukeli beliau belum mengetahui jalur ceritanya. Untuk itu sangat diharapkan kepada para pembaca tulisan ini bila mengetahui jalur ceritanya mohon informasikan kepada penulis agar dalam penyusunan ini lebih lengkap dan generasi penerus dapat mengenal status keluarganya kemanapun mereka pergi ke tanah rangauan. Untuk itu status kedua Embu Rangga Nida dan turunan Embu Djawa Nida masih ditelusuri asal usul sampai anak cucunya sampai turunan terakhir. Untuk itu disarankan kepada pembaca tulisan ini mohon berikan masukan yang positif tentang data keluarga dan disampaikan kepada kami untuk dilengkapi. Kadang-kadang sikap orang Flores pada umumnya kalau apa yang diangkapkan tidak mengena di hati sikapnya mulai acu tak acu dengan permasalahan yang dihadapinya hanya dipendam saja (tidak muncul sampai dipermukaan). Apabila data yang kami susun ini tidak berkenan dihati sangat diharapkan mohon disampaikan agar dirubah dan diperbaiki kembali sesuai kondisi sebenarnya atau sesuai kemauan bapak/ibu yang membaca. Semuanya bisa diatur kearah yang lebih baik dan lebih sempurna untuk kemajuan perkembangan generasi anak cucu kita berikutnya.
    Untuk membuktikan permasalahan tersebut di atas, semasa Embu Ora Nena masih ada menurut para leluhur (ine ame embu kajo ta punu) mengatakan bahwa anak laki-laki pertama dari Dhima Goo bernama Tomas Ude dijodohkan dengan mama Kristina Noo dari Sa’o bele nua Mauara pada saat mama Kristina Noo masih dalam kandung mamanya dan mengatakan bahwa kalau lahir anak perempuan menjadi milik bapak Tomas Ude dalam hal ini kalau sudah besar kawin dengan Bapak TomasUde. Sesuai hukum adat yang berlaku di Mauara mengatakan bahwa untuk menduduki tempat (ndi’i mera da’e) harus dibuat dengan hukum adat (tau nee ngawu), maka untuk itu Ora Nena mengurus istrinya bapak Tomas Ude sesuai dengan hukum adat yang berlaku. Demikian juga anak laki-laki kedua bernama bapak Andreas Meo diurus oleh Embu Mbojo (istri sah Embu Ora Nena) kawin dengan mama Mere Nggua mengurusnya hal yang sama dengan caranya berbeda. Semasa hidup Embu Mbojo, keluarga bapak Andreas Meo tinggal bersama dengan Embu Mbojo dan mengurus makan dan minum (ka pesa) bersama dengan mama Goo Ue sampai embu Mbojo meninggal. Pada saat itu mereka tinggal di Kuwulaja dekat pantai menuju Mauponggo. Bapak Andreas Meo dengan istrinya mama Mere Nggua melahirkan 2 orang anak perempuan bernama Albina Tolo dan Anastasia Noo. Setelah mama Mere Nggua meninggal, bapak Sedangkan bapak Andreas Meo kawin lagi dengan mama Petronela Sobha melahirkan 2 orang anak laki-laki bernama Primus Jodo dengan Marius Ritu.
    Mengenai bapak Hendrikus Nggajo sudah masuk rumah tangga baru tinggal bersama dengan embu Mema Teku (istri dari embu Dhae Goo) saudara kandung dari Dhima Goo. Embu Mema Teku ini adalah anak dari embu Bheda Mema (saudara kandung dari embu Ora Teku (orangtuanya bapak Benyamin Nggadi). Dia kawin dengan Embu Dhae Goo melahirkan anak perempuan 1 orang bernama Goo Mema. Menurut perkiraan penulis bahwa embu Dhae Goo ini andai kata mempunyai anak laki-laki juga menduduki hak yang sama dengan embu Ora Nena karena dilahirkan dari rahim yang sama. Embu Mema Teku ini dimasa tuanya dia menyusui dan merawat anak-anak dari Bapak Hendrikus Nggajo yang berlokasi di rumah Eko Witu. Embu Mema Teku ini pada saat memasuki ajalnya dia diurus oleh mama Marta Muwa (istri dari Bapak Hendrikus Nggajo) di rumah adat Sa’o Sumbu sampai embu Mema meninggal di rumah adat “Sao Sumbu”. Pada saat itu yang tinggal menjaga rumah adat dan merawatnya dengan baik adalah bapak Rangga Wea dengan istrinya Bhoko Ude beserta anak-anaknya. Yang lucunya anaknya Bapak Rangga Wea bernama Maria Beka dijodokan dengan anaknya Bapak Susu Ndana hasil perkawinan dengan mama Ea Tolo anak dari embu Dhima Goo bernama Pius Ritu (panggilan sehari-hari bernama Goo Ea). Hasil perkawinan anaknya Pius Ritu (Goo Ea) dengan anaknya Beka Bhoko melahirkan anak bernama Magdalena Nena dan Severinus Ngguwa.
    Selanjutnya berdasarkan cerita dari mulut ke mulut dari para orangtua mengatakan bahwa Ora Nena kawin gelap dengan hambanya sendiri (vai wado ne’e O’o imu) dengan Dombe Ugha melahirkan anak bernama Enda. Hal ini menjadi problem dalam rumah tangga Ora Nena karena pihak anak weta yang lain menggunakan kesempatan agar mereka juga masuk memegang warisan Embu Ude Ue, sebenarnya semua mereka adalah turunan dari pihak anak cucunya Embu Wadja Tolo termasuk dari pihak perempuan.
    Menurut hukum adat yang berlaku di kampung Mauara mengatakan bahwa status Dombe Ungha ini adalah tenaga yang sehari-hari membantu pekerjaan Ora Nena yang istilah bahasa setempat mengatakan bahwa Dombe Ugha ini besar kemungkinan bukan anak sah Ora Nena karena statusnya hamba (O’o), karena yang mengawini Dombe ini juga termasuk Kei Kamba dan Dhae Keka dengan masing-masing memiliki anak.
    Berkenaan dengan hal tersebut di atas, andai kata Embu Ora Nena mempunyai anak kandung dari istri yang sah (Embu Kutu dan Embu Mbojo), maka otomatis anak cucu dari pihak anak perempuan yang lain semuanya tergeser dan tuntutan anak cucu dari pihak perempuan dari Embu Ude Ue tidak dipenuhi, karena garis keturunan yang diberi hak ahli waris adalah pihak anak laki-laki, sedangkan pihak anak perempuan setelah kawin yang disaksikan oleh mosa daki, mereka harus keluar mengikuti suami. Hak warisan yang mereka akan peroleh ditempat yang baru dimana mereka diberikan hak ahli waris dari garis keturunan pihak suami.
    Untuk membantu pekerjaan rumah tangga Embu Ora Nena, dia dibantu oleh beberapa pembantu adat dan pada jaman leluhur mengatakan hamba (O’o). Peran seorang hamba dulu dianggap rendah dan belum tentu harta warisan diberikan kepada mereka, oleh generasi penerus malahan mereka diusir.
    Peran pembantu pada jaman sekarang lebih kreatif untuk melayani tugas-tugs roda perputaran ekonomi, karena pimpinan (baik Kepala Kantor atau Direktur perusahaan) tidak akan lancar tugas-tugasnya kalau tidak ada pelayanan yang efektif.
    Jaman sudah berubah antara dulu dan sekarang, yang sekarang dianggap anak turunan dari pihak pembantu atau hamba (O’o), malahan posisi saat ini yang dulunya dianggap turunan hamba (O’o) sekarang posisinya berubah dan menurut pengamat penulis yang dulunya status nenek moyangnya O’o dan malahan sekarang usahanya banyak yang berhasil. Sebaliknya Nenek moyang mereka dulu dianggap orang terhormat malahan nasibnya sekarang tidak karuan.
    Keturunan Embu Ora Nena yang berasal dari budaknya (O’o) sendiri tanpa melalui proses hukum adat yang berlaku (tau nee ngawu), oleh anak cucu laki-laki dari pihak anak perempuan (anak weta) tidak mengakuinya/menyetujuinya agar keturunan Embu Ora Nena yang berasal dari budaknya (O’o) diberikan hak terutama menjadi pimpinan (kepala soma). Sesuai hukum adat (mera ena nua orda) kalau anak yang dilahirkan tidak melalui proses hukum adat (tau nee ngawu) maka anak yang dilahirkan dianggap tidak sah (ana kombe me’re). Permasahan yang dihadapi ditingkat anak cucunya dari pihak Embu Waja Tolo baik Embu Ude Ue yang mengangkat Ora Nena menjadi anaknya, maupun pihak anak perempuan dari Embu Waja Tolo sebagai berikut :
    Permasalahan :
    Pertama dari salah satu sisi anak yang dilahirkan Ndombe secara biologis adalah anak hasil hubunganya dengan Ora Nena (anak kandung), tetapi kalau dipandang dari hukum adat anak yang dilahirkan dianggap tidak sah (nua ggedhe mbeo).
    Kedua, anak laki-laki yang dilahirkan dari pihak anak perempuan (ana weta) dianggap tidak sah kalau tidak dibuat dengan hukum adat kampung (mbeo nua) karena status anak perempuan adalah kawin keluar (nuka sao).
    Ketiga, dari pihak anak perempuan (anak weta) tidak mengakui keturunan dari pembantu (O’o) sebagai anak sah karena Dombe Ugha selain berhubungan dengan Ora Nena, dia juga berhubungan dengan Kei Kamba dan Dhae Keka masing-masing mempunyai anak (tidak tentu suaminya yang sah), sehingga dari pihak anak perempuan (anak weta) mencari kesempatan yang baik untuk ingin masuk mendapatkan warisan tersebut.
    1.2. Status Pati Ue.
    Embu Pati Ue kawin keluar mengikuti suaminya Jogo Ndara melahirkan anaknya 1 orang perempuan bernama Djou Pati. Selanjutnya Djou Pati kawin dengan suaminya asal Maumere melahirkan Wanggo, Pi’o, Ndona, Nembo, Mbupu dan Wuda (untuk jelasnya dapat dilihat pada tabel Silsilah Keluarga.
    1.3. Turunan Goo Ue.
    Jalan ceritanya sama dengan penjelasan turunan Embu Ude Ue mengangkat Ora Goo menjadi Ora Nena. Embu Goo Ue, pertama kawin dengan Jari Ndara melahirkan Ora yang sekarang diberi nama Ora Nena. Cerita ini merupakan kelanjutan dari cerita tersebut di atas dan sebagai tambahan Embu Goo Ue kawin dengan Embu Mado Nida melahirkan empat orang anak yakni Embu Dhima, Embu Dhae, Embu Ue dan Embu Babo. Mereka berempat saudara kandung seibu dengan Embu Ora Nena).
    Embu Mado Nida dan Embu Goo Ue statusnya masih saudara sepupu satu kali yakni anak weta mada ana nala. Kalau hukum Gereja sekarang sudah dilarang model perkawinan yang mempunyai hubungan keluarga terlalu dekat, mengingat pada zaman saat itu sumber daya manusia masih kurang dari pada tidak ada keturunan terpaksa biar saudara dekat (papa mada wado) tidak menjadi masalah karena dapat diatur dalam hukum adat (nua mbeo).
    Status hak warisan Dhima Goo dan Embu Dhae Goo sebenarnya di Jawawo karena bapaknya berasal dari Jawawo (embu Nida nai aki nee embu Gati Tuku melahirkan anak yakni Embu Mado Nida). Mengingat Ora Nena merasa diri tidak mempunyai anak dia memanggil Dhima Goo dari Jawawo untuk menduduki di hak pusaka (ku lema) Mauara bersama dengan istrinya Embu Dhima Goo bernama Tolo Eju. Sewaktu mereka dipanggil Embu Ora Nena ke Mauara Embu Dhima Goo membawa bersama keponakannya (ana podu) dari Embu Tolo Edju bernama Embu Wea Bhoko bersama dia ke Mauara di tempat warisan Embu Ora Nena.
    Untuk membuktikan permasalahan tersebut di atas, semasa Embu Ora Nena masih ada menurut para leluhur (ine ame embu kajo ta punu) mengatakan bahwa anak laki-laki pertama dari Dhima Goo bernama Tomas Ude dijodohkan dengan mama Kristina Noo dari Sa’o bele nua Mauara pada saat mama Kristina Noo masih dalam kandung mamanya dan mengatakan bahwa kalau lahir anak perempuan menjadi milik bapak Tomas Ude dalam hal ini kalau sudah besar kawin dengan Bapak TomasUde. Sesuai hukum adat yang berlaku di Mauara mengatakan bahwa untuk menduduki tempat (ndi’i mera da’e) harus dibuat dengan hukum adat (tau nee ngawu), maka untuk itu Ora Nena mengurus istrinya bapak Tomas Ude sesuai dengan hukum adat yang berlaku. Demikian juga anak laki-laki kedua bernama bapak Andreas Meo diurus oleh Embu Mbojo (istri sah Embu Ora Nena) kawin dengan mama Mere Nggua mengurusnya hal yang sama dengan caranya berbeda. Semasa hidup Embu Mbojo, keluarga bapak Andreas Meo tinggal bersama dengan Embu Mbojo dan mengurus makan dan minum (ka pesa) bersama dengan mama Goo Ue sampai embu Mbojo meninggal. Pada saat itu mereka tinggal di Kuwulaja dekat pantai menuju Mauponggo. Bapak Andreas Meo dengan istrinya mama Mere Nggua melahirkan 2 orang anak perempuan bernama Albina Tolo dan Anastasia Noo. Setelah mama Mere Nggua meninggal, bapak Sedangkan bapak Andreas Meo kawin lagi dengan mama Petronela Sobha melahirkan 2 orang anak laki-laki bernama Primus Jodo dengan Marius Ritu.
    Mengenai bapak Hendrikus Nggajo sudah masuk rumah tangga baru tinggal bersama dengan embu Mema Teku (istri dari embu Dhae Goo) saudara kandung dari Dhima Goo. Embu Mema Teku ini adalah anak dari embu Bheda Mema (saudara kandung dari embu Ora Teku (orangtuanya bapak Benyamin Nggadi). Dia kawin dengan Embu Dhae Goo melahirkan anak perempuan 1 orang bernama Goo Mema. Menurut perkiraan penulis bahwa embu Dhae Goo ini andai kata mempunyai anak laki-laki juga menduduki hak yang sama dengan embu Ora Nena karena dilahirkan dari rahim yang sama. Embu Mema Teku ini dimasa tuanya dia menyusui dan merawat anak-anak dari Bapak Hendrikus Nggajo yang berlokasi di rumah Eko Witu. Embu Mema Teku ini pada saat memasuki ajalnya dia diurus oleh mama Marta Muwa (istri dari Bapak Hendrikus Nggajo) di rumah adat Sa’o Sumbu sampai embu Mema meninggal di rumah adat dimaksud. Pada saat itu yang tinggal menjaga rumah adat dan merawatnya dengan baik adalah bapak Rangga Wea dengan istrinya Bhoko Ude beserta anak-anaknya. Yang lucunya anaknya Bapak Rangga Wea bernama Maria Beka dijodokan dengan anaknya Bapak Susu Ndana hasil perkawinan dengan mama Ea Tolo anak dari embu Dhima Goo bernama Pius Ritu (panggilan sehari-hari bernama Goo Ea). Hasil perkawinan anaknya Bapak Yosep Rangga dengan anaknya mama Ea Tolo melahirkan anak bernama Magdalena Nena dan Severinus Ngguwa.
    1.4. Status Wewo Ue
    Setelah di Mauara Embu Wea Bhoko dikawinkan dengan Embu Kaka Wewo saudara sepupunya Dhima Goo (ine kae ari). Kalau dipandang dari Jawawo status embu Wea Bhoko di pihak anak karena dia adalah anak dari kakaknya Embu Tolo Edju, sedangkan kalau dipandang dari Mauara status embu Kaka Wewo adalah setingkat dengan embu Dhima Goo dan embu Ora Nena.
    1.5. Turunan Ea Ue.
    Embu Ea Ue kawin keluar mengikuti Dewa Tonggo melahirkan anaknya 1 orang laki-laki bernama Ritu Ea, dan 2 orang anak perempuan bernama Edju Ea dan Ndana Ea. Selanjutnya Embu Ritu Ea kawin dengan Embu Ua Mere melahirkan anak perempuan bernama Daki Ua, Mbeu Ua Ora Ua Asa dan Nggua Ua. Cerita dari leluhur tentang status Embu Ea datanya belum masuk pada penulis sangat diharapkan kepada para pembaca dapat melengkapinya namun untuk keturunan Embu Ea Ue untuk jelasnya dapat dilihat pada tabel Silsilah Keluarga tersebut di atas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s