Posted by: tanagekeo | November 15, 2009

Mohon Maaf Mengabaikan Para Sahabat

Sudah lebih sebulan saya tidak aktif membuka blogku.  Karena satu dan lain hal saya tidak menyapa lagi sahabat.  Beberapa waktu lalu saya melakukan perjalanan ke luar kota. Sekali saya ke Surabya, dan lain waktu saya amengunjungi satu daerah minus Wonogiri. Perjalanana ke Wonogiri sedikit istimewa. Saya kesana  untuk memuaskan dahaga ingin tahuku.  Ternyata daerah  berbukit-bukit dan tandus ini tidak jauh berbeda dengan wilayah di kabupaten Nagekeo.  Tanah gersang ini banyak ditumbuhi pohon jambu mete. Di dua gerbang kampung saya melihat  monumen jambu mete dibuat sebagai pertanda  produk unggulan wilayah.

Membandingkan Wonogiri dengan daerah Flores, khusus  Nagekeo , saya melihat ada kesamaan dengan wilayah Ndora dan Boanio.  Tetapi pencapaian wilayah ini bisa terasa ketika memasuki gerbang perbatasan.  Gerbang kota begitu megah menyambut tamunya.  Daerah tandus ini menggiring milyaran rupiah masuk desa-desa melalui anak-anak rantau. Ada kebanggan orang  Jawa, sukses diukur dengan berapa besar uang yang dibawa pulang membangun kampung halaman. Dan Lebaran adalah hari dimana mereka secara beramai-ramai pulang kampung. Pada saat itu hingar bingar kamppung seperti sedang terjadi bazar. Puluhan bus bahkan ada ratusan bis melintasi jalan mengangkut pemudik. Begitu banyak uang yang mengalir melalui kantor pos dan bank. Itu jumlah uang yang bisa dideteksi. Tetapi  masih sejumlah uang  tak terdeteksi milyaran uang kontan yang dibawa oleh para pengemudi beredar di wilayah ini. 

Saya tertarik akan jambu mede. Gelondongan jambu mede Flores termasuk asal Nagekeo dikirim ke daerah ini. Jambu mede di kupas, diasapi untuk melepaskan kulit ari, kemudian dikirim ke pengepul dan dijual ke Bandung, Jakarta dan Surabaya.  Harga jambu mede yang sudah dikupas Rp. 60.000,-/kg.  Suatu jumlah yang luarbiasa bagi orang  Nagekeo. Pertanyaanku kapan  penduduk Keo Tengah dan Ndora  bisa belajar mengupas, mengasap dan melepaskan kulit arinya kemudian menjual dengan harga yang lebih baik?

Posted by: tanagekeo | October 17, 2009

Keterlambatan atau Penundaan Adalah Budaya

Terakhir kali saya menggunakan pesawat terbang adalah tanggal 12 Oktober 2009. Penerbangan Batavia Air dengan nomor penerbangan 7P-701 sesuai ticket akan meninggalkan Cengkareng 15.30 WIB dan tiba di Surabaya pada 16.35.  Penumpang diminta check in jam 13.20.  Kami meninggalkan rumah jam 10.15 WIB dari rumah di Cijantung. Hal ini dilakukan untuk antisipasi  bila terjadi kemacetan di jalan raya ibu kota tercinta ini.

Sebagaimana biasa setelah cek ini penumpang menuju ruang tunggu.  Mungkin sudah jarang bepergian dengan pesawat, saya merasa ada pemandangan yang tidak lazim.  Jalan lorong menuju pintu masuk ruang tunggu beberapa orang berkelompok duduk di lantai menikmati makanan kecil, mengobrol dan tidak peduli.  Sekitar 3 meter dari pintu masuk  dipasang papan pemberitahuan. Isi pemberitahuan adalah kewajiban perusahaan jasa penerbangan terhadap pengguna jasa bila terjadi keterlambatan (delay).  Keterlambatan memang sudah menjadi biasa. Pemberitahuan ini mengisyaratkan betapa seringnya penundaan penerbangan dan pasti telah terjadi ada kelalain perusahaan penerbangan melayani pelanggannya. Melalui pemberitahuan yang sama dapat diartikan sebagai himbauan kepada calon penumpang agar tidak usa cemas. Keterlambatan memang biasa. Tetapi tidak usah cemas anda tidak dibiarkan sia-sia. Anda akan mendapat makanan kecil. Dan kami pun mengalami keterlambatan hampir satu jam. Ada pengumuman mendapat makanan kecil, tetapi banyak orang diam tidak pernah bergerak dari ruang duduk. Orang memilih duduk dari pada kehilangan tempat istirahat. Ruang tunggu penuh dengan penumpang ke berbagai tujuan.

Menumpang pesawat terbang maskapai dalam negeri kita termasuk penyandang nama besar Garuda dan Merpati masalah keterlambatan sudah lumrah. Ketika suatu waktu saya melakukan perjalanan ke Flores, pesawat bahkan tunda sampai keesokan harinya. Seeorang anak muda hanya bisa meratapinya. Keluarganya menunggu di Bandara Ende untuk menjemputnya karena pemakaman ibunya menunggu kedatangannya sebagai putera tertua. Transit di Denpasar atau terbang dengan  pesawat mana saja dari Denpasar merupakan sebuah situasi yang sangat menjemukan. Pengumuman-demi pengumanan penudaan keberangkatan  bagai iklan paling top tentang keburukan pelayanan ini.  Nampak wajah-wajah muram duduk, bahkan ada yang tidur di kursi ruang tunggu.

Pelayanan pesawat terbang kita tidak saja berurusan dengan penundaan yang membuat kesal. Membeli ticket saja sudah jadi masalah. Akhir-akhir ini  teknologi online agak banyak menolong. Ingat orang penerbangan seperti Garuda saja kalau ada yang mau booking selalu bilang penuh. Ketika berada di pesawat puluhan kursi kosong. Pelayanan pesawat kita sungguh mengecewakan. Tak heran pesawat asing seperti KAL dan JAL menikmat benefit bisnisnya. Kursi pesawatnya selalu penuh.

Penumpang domestik memang tidak dihargai. Saya pernah terbang dengan Lion Air dari Kupang-Surabaya-Cengkareng. Penerbangan dari Kupang pagi memang tepat waktu. Sayang  perusahaan tidak menyajikan apa-apa bagi penumpangnya. Tidak usaha makanan kecil, air untuk membasahi kerongkongan  pun tidak ada. Saya jadi ingat teman saya orang Korea, kepala kamu orang Indonesia memang murah. kalau celaka saja asuransi hanya menghargai Rp. 10.000.000,-.  Mungkin ucapan teman saya benar. Kita memang orang murah. Tidak perlu dihargai dengan ketepatan waktu dan pelayanan yang lebih memadai. Pelayanan menurun tajam sementara hargai ticket terus begerak naik.

 

 

 

 

 

 

d

 

DSC00085DSC00104DSC00099

Terdorong rasa ingin tahu saya  mencari stand pameran NTT di arena Balai Sidang Senayan Jakarta , Kamis  8 Oktober 2009 pada hari pertama Indonesia Fisherie Expo 2009. Dalam iklan dikatakan ini merupakan  Pameran Terbesar Produk dan Teknologi Perikanan & Makanan Laut Yang Ke-2.  Saya sempat sedih menyaksikan lokasi stand  BKPMD NTT. Pada hari pembukaan tidak ada orang yang jaga. Standnya dikeliling tali plastik seperti police line. Posisi persis disudut di bagian kiri pintu masuk. Sepi, ditinggalkan dan tak ada orang yang mengunjunginya. Ketika saya melewatinya ada seorang sempat berhenti tetapi tidak lama. Seperti biasa mengunjungi pameran, saya berkeliling. Banyak daerah menampilkan diri dengan sangat menarik. Padahal yang diekspos adalah peroduk biasa dari ikan air tawar. Tetapi sungguh mengundang perhatian. Menyaksikan sudut NTT yang sepi, tidak ada yang aneh. Orang NTT begitu yakin bahwa propinsinya punya potensi. Jadi biar kita diam saja pasti ada yang cari. Buat apa buang doi bikin pameran bagus, tidak ada gunanya. Apakah stand pameran kita begitu redup karena tidak ada biaya? Pasti tidak. Beberapa stand milik kabupten propinsi jawa Barat misalnya begitu mencolok dan mengundang banyak perhatian pengunjung. Untuk menjual banding presto saja standnya lebih baik dari NTT.

 Kekecewaan saya terobati ketika secara tak sengaja saya melintasi lorong untuk kedua kalinya. Dan saya berhenti di salah satu stand. Ternyata itu adalah NTT. Pintu masuk lokasi pameran ada logo propinsi NTT begitu besar, sementara tulisan NTT dengan tulisan redup.  Tiga buah sesando terpajang. Satu sesando  berukuran besar beserta topi daun lontar Rote di sudut ruang. Ada beberapa produk terletak tidak teratur diatas meja pemeran. Beberapa bungkus plastic bening berisi rumput laut kering, dua plastik ikan asap (ikan kayu) dan satu bungkus serutan ikan kayu. Ada sebuah pendingin berisi bungkusan baso ikan, dan juga sejumlah kaleng ikan tuna milik satu perusahaan di Jakarta. Katanya semua ikannya berasal dari NTT. Dan jadilah stand NTT  sebuah  sarana promosi dan penjualan produk olahan makanan ikan orang Jakarta.

 Membaca sejumlah brosur NTT, rasanya NTT tidak kalah dengan wilayah lain. Propinsi ini punya segudang potensi. Tetapi apa artinya potensi yang tidak ada aktualisasinya. Sama dengan sia-sia, tak ada manfaatnya. Promosi seperti ini tentu merupakan sarana untuk mencari investor yang bisa memanfaatkan potensi ini menjadi peluang bisnis. Pada saat-saat seperti ini seharusnya menjadi momentum untuk NTT tampil kuat dengan stand yang mempunyai daya pikat. Gema sesando dari seorang pemetik tidak beraya tarik luar biasa buat investor. Saya tidak sepaham dengan Carvalo, pegawai Perikanan NTT,yang mengatakan  tidak apa kita tidak perlu banyak promosi, mereka itu produk ikan air tawar. Kita punya produk ikan laut untuk ekspor. Mereka sebenarnya kecil, hanya untuk konsumsi lokal. Pendapat seperti ini yang ikut meredupkan gempita pameran potensi ekonomi NTT di mata investor. Bunyi Sesando mendayu  menyambut Menteri Perikanan dan Kelautan. Sayang petikan sesando tetap saja tidak cukup nyaring menarik investor. 

 

 

Posted by: tanagekeo | October 7, 2009

Uta Wona Lame Bubur bergizi orang Keo

 Ada seorang anak muda dari kampung, Ance Siu begitu sering mengirim SMS ke Handphone saya. Dia selalu bertanya tentang keadaan saya, sedang apa dan sebagainya. Kemarin ketika dia mengirim SMS saya mengatakan bahwa saya baru saja makan uta wona lame. Uta wona lame yang saya makan adalah bubur uta wona yang kental tidak seperti uta wona lame di kampung. Begitu mendengar saya makan uta wona lame, Ance bilang bahwa tidak sangka orang kota masih makan uta wona lame.

Uta wona (daun kelor) begitu banyak tumbuh di lahan kritis. Saya masih ingat ketika melintasi wilayah Sumbawa, banyak pohon kelor dijadikan pagar kebun. Jadi begitu berlimpah daun kelor disana. Ketika melintasi daerah itu saya teringat sebuah tulisan tentang pemanfaatan buah daun kelor. Biji daun kelor menghasilkan minyak. Dikampung Mauromba pernah dipelihara dua batang tanaman wona (kelor) dimuka rumah kami. Dua pohon berdiameter lebih dari 30 cm begitu berjasa menjadi sumber gizi bagi keluarga terutama disaat saat sulit. Semakin dipangkas semakin banyak cabang berdaun lebat.

Di wilayah lain di Flores utawona dijadikan sayur teman makan nasi. Tetapi di desa kami uta wona di olah menjadi uta wona lame. Jenis masakan ini mungkin hanya berada di daerah pesisir selatan Nagekeo. Uta wona lame sebagaimana aelame pada umumnya masakan dengan banyak air. Potongan ubi-ubian, jagung atau beras dan diberi santan kelapa serta sedikit garam. Masakan itu begitu sederhana. Tetapi begitu umum teristimewa pada masa sulit. “Yolo ha opo ae ha lowo” (jagung setongkol dan air sekali) kata seorang ibu muda dari Mauponggo yang menikah dengan orang Romba. Ibu ini heran menyaksikan masakan yang begitu banyak air. Pada masa sulit air ditambah sesuai dengan jumlah orang. Kandungan isi terkadang sangat terbatas. Utawona lame pada masa itu penampilannya lebih sebagai sup berisi daun wona daripada disebut bubur. Pasti beda dengan utawona lame yang kami makan, benar mengental menjadi bubur. Isinya bubur nasi, utawona terrkadang ditambah daging sosis. Tidak kalah sedap dengan bubur direstoran berkelas di Jakarta.

Posted by: tanagekeo | October 5, 2009

Mbabho Ngasi Perundingan Adat Melelahkan

Undangan pertemuan atau kenduri selalu didahului dengan pertemuan   kelompok keluarga dekat (ka’e ari sa’o tenda). Satu atau dua orang diutus ke rumah-rumah warga untuk menyampaikan undangan lisan. Dalam penyampaian undangan biasanya tidak dijelaskan secara lengkap tema undangan. Pesan disampaikan dengan cara: saya(kami) diutus (sira roka)  untuk menyampaikan  serta meminta bapak kerumah (nuka rede sa’o), berkumpul bersama warga sekampung ( sira ta nua oda)…. Semua ungkapan penuh basa-basi dan tersamar. Yang jelas adalah mengatakan siapa yang mengundang. Bagi orang Nagekeo yang menentukan adalah siapa yang mengundang. Soal kejelasan tema akan dibicarakan pada pertemuan bersama.

Dalam pertemuan baik kenduri kecil atau pesta adat semua acara berjalan sebagai berikut. Pertama adalah menyalami tamu dengan menyajikan rokok dan minum kopi. Setelah minum kopi ada penyampaian tema acara. Tema acara tidak serta merta disampaikan oleh tuan rumah. Dalam budaya Keo, tamu undangan berpura-pura tidak mengetahui tema acara. Kemudian ada yang menggerakkan supaya ada yang bertanya. Ai mai tau ne”e ade ona sai (mari perlu kita tanyakan tujuan pertemuan ini). Biasanya ada yang melemparkan ide untuk bertanya, tetapi yang bertanya diserahkan pada seorang yang dituakan. Ada beberapa orang yang berpengaruh mulai saling melempar tugas. Yang pada akhirnya semua tahu ada seorang yang sudah biasa menjadi juru bicara (mosadaki). Mosadaki akan mengajukan pertanyaan kepada tuan rumah setalah merokok dan minum kopi. tuan rumah akan menjawab dengan penuh basa basi untuk sampai pada penjelasan tema sesungguhnya. Setelah semua tahu apa tujuan pertemua, tuan rumah baru menyiapkan makan atau menyembelih hewan. Hewan berupa babi, kambing atau mungkin sapi baru bisa disembelih bila warga telah berkumpul dan mendapat penjelasan tujuan acara. Bila semuanya sudah siap akan dilanjutkan dengan nado ka (makan bersama). Pada acara adat besar disebut nado mere.

Dalam kelompok masyarakat Keo ada dua macam kelompok. Kelompok luas udu mere eko dewa dan kelompok kampung kecil udu go’o eko  bhoko. Dalam kelompok ini selalu ada orang yang dituakan untuk bicara disebut mosadaki (mosalaki). Mosadaki adalah setiap orang yang dihormati dan memiliki pengaruh baik dalam masyarakat. Mereka adalah orang-orang yang memiliki kearifan dan mempunyai kharisma untuk bicara. Mosadaki harus memiliki kemampuan bicara. Karena mereka ini yang selalu mbabho.  Mbabho artinya memberikan wejangan dan pertimbangan. Kata mbabho selalu dikaitkan dengan kata ngasi (peringatan kalau perlu marah dan memberikan sanksi).

Mbabho ngasi selalu dilakukan setelah acara makan bersama. Pada acara makan bersama kepala babi atau kambing yang sudah dibelah dibagi dan diserahkan pada para mosadaki. Pemberian kepala hewan merupakan tanda kehormatan. Karena itu bila seorang yang suka banyak bicara dan bergaya mosadaki, ada yang menanyakan “wengi, ena emba ata pembe udu ena kau( kapan dan dimana orang pernah menghormatimu dengan menyerahkan kepala).

Dalam setiap acara orang Keo akan menyajikan kopi setalah makan bersama. Dalam acara yang agak istimewa pertama semua diberikan gelas untuk minum tuak. Kemudian disusul dengan minum kopi. Setelah minum kopi acara mbabho ngasi baru dimulai.  Mbabho ngasi selalu diawali dengan basa basi memohon mosadaki untuk memulai acara. Pada acara ini mosadaki akan mulai dengan: Kita sudah berkumpul,  sudah makan dan minum, sudah minum tuak dan kopi, mari kita tanya pada tuan rumah mungkin  ada hal-hal lain yang masih perlu disampaikan (mbeja kita negha liko tiwo, minu ka negha, kesa tua ne’e kopi.. bhide emba taku datu ne’e pata pede ta pesa). Setelah itu ada pembicaraan dari tuan rumah atau yang diwakilkan. Dan yang paling umum tuan rumah tidak pernah bicara sendiri, selalu diwakilkan.  Penyampaian tuan rumah akan ditanggapi lagi dengan cara yang penuh basa basi.. dan saling melempar tugas.

Pada akhir pertemuan, mosadaki mewakili warga kampung (tuka nua toda oda) akan meminta pamit ( mo’o pata ai sai kita). Ada yang perlu dicatat bahwa dalam setiap pertemuan adat selalu ada moderator (mosadaki). Walau sangat demokratis, tidak semua orang bisa angkat bicara. Semua pembicaraan harus lewat juru bicara. Tidak boleh ada orang yang menyela pembicaraan sesuka hati . Berlaku hukum ma’e ndore ndobhe lewo (jangan saling menyela), sebuah peraturan tak tertulis.  Acara mbabho ngasi pasti makan waktu. Karena semua pembicaraan harus mengulangi kembali pembicaraan terdahulu kemudian baru menyampaikan ide baru. Solidaritas, kebersamaan warga, etika bicara dan sopan santun sangat diperhatikan. Kesabaran merupakan modal utama untuk mengikuti pertemuan ini. Melelahkan tetapi bila dicermati banyak kearifan mentradisi disana.

Older Posts »

Categories