Posted by: Tanagekeo | January 1, 2012

AKU DAN KITA

Pertama kali saya kaget. Tetapi saya tidak pernah bisa menegurnya sampai hari ini. Isteri saya, anak kelahiran Jakarta selalu bicara menyapa diri dengan ‘aku’. Kebiasaan mengatakan pada teman dengan berkata ‘aku’.

 

Kebiasaan isteri ku sangat berbeda dengan kebiasaan orang-orang dari desaku di Nagekeo. Kata ‘kita’ lebih banyak digunakan. Ketika memperkenalkan kepada tamu, seorang akan mengatakan ‘sa’o kita’ (rumah kita).atau ‘itu kebun kita.’ Ini menunjukkan pengakuan bahwa orang yang diajak bicara adalah bagian dari kehidupan kita. Penggunaan kata ‘kita’ dan ‘kami’ adalah pengakuan bahwa orang di sekitar kita menjadi bagian dari satu keluarga. Dengan itu pula kita mengakui kesetaraan sebagai saudara.

 

Orang Flores ternyata memiliki kebiasaan yang sangat mirip dengan orang kampung di Afrika Selatan, negerinya Nelson Mandela. Orang Afrika memiliki sebuah konsep yang disebut ‘UBUNTU’ ( Ubuntu, Stephen C. Lundin & Bob Nelson). ’Ubuntu adalah sebuah kesadaran bahwa manusia hanya bisa menjadi manusia sejati lewat kemanusiaan orang lain. Segala sesuatu dimungkinkan tercapai melaui pekerjaan dan pencapaian orang lain. Sebuah kesadaran bahwa kita semua adalah keluarga. Dan kita adalah keluarga besar umat manusia yang selalu harus saling berbagi, bagi barang, dan juga berbagi rasa. Orang tidak sekedar berbagi mimpi tetapi yang lebih utama adalah berbagi tindakan nyata. Ubuntu ternyata bukan jalan buntu tetapi sebuah terowongan luas yang memungkinkan manusia berjalan menatap dan meraih masa depannya dalam kebersamaan.

Posted by: Tanagekeo | December 20, 2011

MARI BERBAGI DENGAN SESAMA

HIDUP DAN BERBAGI

Dimana-mana penuh barang. Sejumlah anak lagi latihan menari. Dua anak kecil berusia dua dan tiga tahun berlari mendekati suster. Masing-masing mengatakan ini mama saya. Tak jau dari situ seorang ibu menenangkan seorang anak dengan penuh kesabaran. Kata suster itu ibu kandung anak itu. Dia duduk berhadapan lutut bertemu lutut. Seperti seribu rasa terpancar dalam wajah. Sulit ditasfirkan.

Ini adalah suasana ketika saya berkunjung ke panti asuhan P.A PELAYANAN KASIH BHAKTI MANDIRI DI Jl. H. Abdul Rahman No.14 Cibubur. Jakarta.

Lebih dari 70 orang anak kecil menghuni panti asuhan ini. Berdasarkan informasi dari www.palayanankasihbhaktimandiri.com mereka sangat membutuhkan uluran tangan untuk berbagai kebutuhan pokok bulanan sebagai berikut:

• Beras : 450 kg
• Gula : 35 kg
• Teh : 40 bks
• Minyak Goreng : 50 liter
• Susu Bayi : SGM, Laktogen, Bebelac
• Susu Anak-anak : SGM, Laktogen, Bebelac, Bendera, Dancow
• Bubur Bayi / Makanan Bayi
• Sabun dan shampo Bayi
• Sabun, shampo, sikat gigi, dan pasta gigi ( anak2 dan dewasa )
• Bedak, Minyak Telon/Kayu Putih, Minyak Tawon
• Pampres ( S, M, L, XL )
• Pembalut Wanita
• Pembersih Lantai
• Sabun Cuci Pakaian
• Sabun Cuci Piring

Bantuan dana bisa disalurkan melalui rekening:
BANK : BCA Cibubur
No Rek : 6280 – 423 – 457
A/ n : Sr. Sirilla Gore Sare
BANK : MANDIRI
No Rek : 157- 000 -105 3 -140
A/ n : Pelayanan Kasih Bhakti Mandiri
http://www.palayanankasihbhaktimandiri.com/
www.palayanankasihbhaktimandiri.com

Posted by: Tanagekeo | November 18, 2011

DESU,LESU,DESTAR

Kalau ada yang aneh menurut saya adalah ikat kepala orang Nagekeo. Dalam bahasa daerah disebut Desu, lesu atau katanya dalam bahasa Indonesia disebut destar. Ukurannya sebesar tapak meja tamu. Kain ini terbuat dari batik dengan bagian tengah berwarna putih. Lelaki Nagekeo merasa gagah menggunakan ikat kepala dengan mencuatkan ujung berbentuk kluping atau tanduk.

Ada yang bertanya dari mana asalnya? Apakah ini asli orang Nagekeo. Dari segi produk kainnya, jelas ini adalah batik dan berasal dari Jawa. Hiasan kepala ini masuk ke Nagekeo, menurut saya melalui para pelaut yang berlayar ke Bima, Benoa, dan Banyuwangi. Kemudian menjadi barang  oleh para pedangan barang ini dijual di pasar.

Dalam kesehariannya orang Nagekeo tidak memakai ikat kepala ini. Pada masa lalu barang ini langka dan susah diperoleh. Teknik ikat kepala orang Nagekeo hampir sama dengan orang Bali.

Posted by: Tanagekeo | October 25, 2011

CERMIN TAK RETAK, AKU BERKACA DALAM BURUK WAJAH

Dalam berbagai peristiwa aku menemukan laku sesamaku  mencerminkan wujud imannya. Iman muncul dalam tindakan. Iman itu nyata. Iman itu hidup. Ketika mereka melakukan itu di hadapan wajahku, aku melihat dan mecermati diriku sendiri. Dalam perbandingan itu aku sungguh berkaca  dan menemukan wajahku sendiri.

Ketika masih bujang seorang anak gadis kecil berusia 7 tahun , dia adalah adik dari calon isteriku menginap di rumah petak sewaan. Di ruang tidur ada satu tempat tidur kayu untuk ku dan sebuah tempat tidur lipat (folding bed), yang ku peroleh dari teman saya Otto Gaut SH ketika dia berpindah rumah. Dan tamu kecilku tidur di tempat tidur lipat.  Ketika akan tidur, adik kecil tadi duduk dengan kedua kaki menyentuh lantai tanah, mengatupkan tangan, membuat tanda salib dan berdoa dalam keheningan.  Dalam keadaan tertegun saya sadar diri, selama ini saya tidak lagi berdoa sebelum tidur.  Dan saya pun melakukan serupa dan berdoa singkat dalam caraku.

Seorang teman kelas saya Dominikus Timu Pera sempat datang ke rumah pada malam hari. Malam itu disuguhkan minum tanpa kue. Sebelum minum dia mengingatkan saya akan kebiasaan di Flores. Dia sedikit menutup mata kemudian membuat tanda salib, lalu minum.  Dari ceritanya saya tahu bahwa dia banyak berbuat bagi lingkungan orang-orang seimannya.

Orang Flores melakukan tanda salib pada saat mau mandi, naik pohon , pada saat akan makan dan minum. Kami selalu membuat tanda salib ketika akan menapak masuk ke laut untuk berenang. Atau ketika kami akan terjun dari perahu ke laut pertama kali.  Hanya terkadang orang Flores juga tetap membuat tanda salib (doa) pada saat naik pohon padahal itu bukan pohon kelapa miliknya, dan dia memanjat tanpa izin pemilik . Dia sedang  curi kelapa.

Kemarin saya bertemu seorang dari Nagekeo, yang saya jumpai setelah melakukan komunikasi via fesbuk (facebook). Fesbuk telah membuat saya menjalin pertemanan melalui dunia maya. Dan ada yang melakukan temu muka  dan tukar pandangan di ruang nyata.  Dalam pertemuan ini teman saya bercerita macam-macam tentang kegiatannya. Demikian juga saya pasti punya cerita. Ada yang membuat saya  terpanah memandang diri dalam cermin imannya.

Sebuah ungkapan yang saya tahu tetapi sampai menjadi ungkapan iman hidup sungguh mengagumkan. “kami orang Flores,  kudus, katolik dan apostolik, jangan macam-macam”.  Ini ungkapannya ketika bercerita tentang godaan wanita cantik yang ingin memberi dirinya demi mendapatkan sesuatu darinya. Kali ini cermin wajahku menjadi lebih besar dan jelas, aku merasa sungguh berkaca dalam wajah buruk mukaku. Aku Katolik, tetapi tidak terlalu apostolic dan jelas benderang pasti tidak kudus.

Posted by: Tanagekeo | October 21, 2011

FACEBOOKERS ATA LOMBA

Awalnya saya sangat alergi memiliki akun facebook. Tetapi isteri saya yang setia jadi ibu di rumah punya akun facebook yang dibuat dengan bantuan anaknya.  Karena kode rahasia umum maka saya bisa membukanya. Satu kali saya melihat foto makam kakak Niko Muta di Nagaroro. Saya terharu dan memberi komentar pakai bahasa daerah, ‘tei late kae Niko, Tali’. Ketika isteri  buka akun facebooknya melihat itu dan heran bercampur keberatan. Saya lalu membuat akun sendiri.

Dengan sedikit malu-malu, saya tidak memasang foto pribadi. Pada satu kesempatan saya berkomunikasi dengan  Agapitus dan Jose Jua pada saat bersamaan. Agapitus minta saya pasang foto. Dan setelah tunggu beberapa hari akhirnya dipasang foto saya. Saya tertarik dengan percakapan dan  sharing pendapat bertiga malam itu. Kris Bheda juga menguatkan saya facebook menjadi wadah yang baik buat diskusi. Kebenarannya kemudian menyemangatiku dan membawa hiburan tersendiri. Saya bisa bertemu dengan banyak orang.

Menjalin hubungan dengan para sahabat facebook pertama aku memilih orang sendiri. Dari nama-nama pemilik akun bisa direka-reka daerah asal. Dan dari sahabat mereka  bisa diidentifikasi hubungan keluarga atau asal wilayahnya. Kini saya bisa berhubungan dengan sejumlah anak-anak muda asal  kampung kami Mauromba dari Merauke sampai Aceh. Bagi yang belum pernah kenal saya awali dengan kirim pesan, ‘mae ngasi te puu emba, jao tali ata lomba. Bhide koo koka kita weta weki’. Facebook telah menjadi a’i rada (perantara) paling handal untuk kita saling mengenal.

Older Posts »

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.