Posted by: tanagekeo | February 9, 2010

Kapur Sirih Nagekeo

Bibir dan bahkan gigi merah kehitaman suatu pemandangan yang biasa di Nagekeo. Orang Nagekeo baik laki maupun wanita banyak yang mengunyah sirih. Agak beda dengan daerah lain. Orang Nagekeo mengunyah buah sirih, bukan daun sirih.  Daun sirih dimanfaatkan bila sulit mendapatkan buah sirih. Buah sirih berbentuk lonjong sebesar jari orang dewasa. Buah sirih yang digunakan umumnya buah segar. bila terdesak buah yang sudah layu pun laku. Teman pemakan sirih adalah daging buah pinang dan kapur. Kapur sirih Nagekeo terbuat dari dua  macam bahan baku. Pertama adalah batu-batu yang berasal dari bunga karang yang sudah mati. Umumnya berwarna putih. Yang dalam bahasa daerah disebut powa.  Bahan yang lain adalah kulit kerang besar yang disebut kima uwi dan kima kae. Bahan-bahan ini mudah didapatkan di pinggir pantai. Tetapi pengerusakkan lingkungan akibat bom ikan bahan-bahan ini semakin langkah. 

Pembuatan kapur sirih adalah dengan membakar  powa (batu koral) atau kima.  Pertama menyiapkan tungku dengan membangun semacam benteng kecil berbentuk segi empat (dapu apo). DDalam kotak segi empat ini dihimpun bahan baku kapur (powa dan kima) kemudian ditempatkan kayu bakar diatas. tungku dibuat agar abu-abu hasil bakaran tidak beterbangan. Karena abu-abu sisa pembakaran koral berwarna putih sangat halus dan mudah diterbangkan angin. Pembakaran batu dan kima dilakukan pada sore hari.  Hasil pembakaran, berupa abu-abu berwarna putih halus dihimpunkan keesokan harinya.

Posted by: tanagekeo | February 7, 2010

Ngga’e Ndewa Ghewo

Setiap orang ingin hidup sehat dan berumur panjang.  Saya pernah bertemu dua orang  nenek. Mereka berdua adalah tanta dari ibu saya, yaitu Ito Gudhu dan Tuku Gudhu. Keduanya hidup sampai usia sangat lanjut. Sudah sangat keriput, tetapi masih bisa melihat dengan baik dan berbicara lantang. Berarti alat pendengaran masih prima. Karena usia sudah sangat tua keduanya sampai dibuat kurungan khusus dalam kamar. Mereka tidak boleh keluar. Beruntung bangunan rumah desa di Mauromba dan Ipi Mbu’u berbentuk rumah panggung.  Dari segi kesehatan udara dibilang baik. Angin segar bisa adari mana-mana termasuk dari klong rumah. Dan karena rumah panggung, urusan buang air langsung di tempat. Segala bisa dilakukan dengan sedikit melebarkan celah bilah-bilah bambu yang dijadikan lantai rumah.

Usia lanjut pada mulanya sebuah kerinduan. Tetapi berkali-kali ketika kami mengunjungi nenek-nenek ini, yang kami denganr. Sang nenek selalu mengeluh pelayanan yang diterima dari ibu-ibu di rumah yang menjadi isteri anak dan cucu mereka. Mereka dianggap kurang memperhatikan dan tidak memberikan makan cukup. Keluhan yang terkadang di dengar , tetapi itu keluhan utama dan paling benar serta terpercaya.  Ngae’e Ndewa Ghewo artinya Tuhan Allah sudah meluapakan mereka. Allah lupa memanggil pulang mereka. (Ngga’e Ndewa Niu). Pengalaman serupa saya jumpai ketika ayah hidup pada usia tua dan meratapi matanya yang tidak memerikan kesempatan dia menikmati dunia. Dia meratapi nasibnya. Dia meminta Tuhan segera memanggilnya.  Waktu hidupnya adalah saat menunggu. Dia menunggu saat dipanggil Tuhan. Dan saat itu dirasa sangat lawam. Ayah juga mengeluh pada Tuhan, mengapa tuhan melupakannya (NGGAE NDEWA GHEWO).  Saaat menjelang ayah meninggal ada tiga kali gelegea guntur, kemudian ayah muntah dan kemudian tersenyum meninggalkan bumi. Itu saat yang diharapkannya menghadap yang Ilahi. Tuhan memanggilnya kembali ke rumah-Nya.

Posted by: tanagekeo | February 7, 2010

Meninggalkan Tas Tanpa Pengawasan

Ketika orang berderet-deret menerima sakramen ekaristi (komuni) di Gereja, saya melihat beberapa tas  di bangku depan saya ditinggalkan begitu saja. Pada saaat giliran deretan bangku kami, saya amenjumpai lagi bebrapa tas dibiarkan begitu saja di bangku.  Di beberapa gereja ada pengumuman agar umat tidak meninggalkan tas di bangku, tetapi selalu dibawa serta.  Kejadian di gerejaku dan pengumuman di gerja yang lain menunjukkan dua hal. Pengumuman di gereja menunjukkan ada umat yang bisa berlaku tidak jujur. Kejahatan bisa terjadi karena ada peluang dan kesempatan. Untuk tidak memberi peluang dan kesempatan bagi yang tidak jujur berlaku curang, sebaiknya menjaga barang-barang milik pribadi. Banyaknya sandal; dan sepatu pribadi yang bagus hilang dimesjid karena ada kesempatan. Pemiliki memberikan peluang dengan meninggalkan tanpa pengawasan. Suatu saat saya mengikuti pertemuan doa bersama (adorasi) di Hotel Mulia. Semua wajib membuka sepatu dan sandal. Tetapi setiap orang diberikan kantong plastik untuk mengisi sepatu dan dibawa masuk ruangan. Tidak ada peluang dan kesempatan bagi  seorang untuk melakukan kejahatan. 

Meninggalkan tas dan barang pribadi di bangku tanpa pengawasan menunjukkan adanya kepercayaan pada sesama dalam ruang ibadah. Suatu saat saya duduk dalam bus di Jepang. Tas saya berada jauh dari saya. Saya sedikit cemas. Seorang Jepang berada di sampingku mengatakan:”"Jangan cemas, ini Jepang”.  Pada kesempatan lain teman saya dari Indonesia kehilangan kamera di Korea. Ternyata tertinggal di kursi kereta. Kami turun di salah satu kota. Dan kereta meneruskan perjalanan ke Seoul.  Melalui telepon ke kantor stasiun di Seoul, kamera dapat ditemukan.  Setelah bebeberapa bulan  mengembara di Korea, saya ingin pulang ke Indonesia. Sesampai di terminal bus di Changwon, saya segera memasukkan kopor kedalam bagasi bus. Saya ke restoran dan berbicara dengan seorang teman. Ternyata bus sudah berangkat  bersama kopor saya ke Seoul. Saya cemas.  Saya menumpang bus berikut, sang sopir mengatakan tidak apa. Di Seoul anda jangan turun dari bus sampai ada kopornya. Dan senang karena saya bisa pulang ke Indonesia dengan kopor saya. Di Jepang dan di Korea, juga di gerejaku tadi memperlihatkan bahwa masih ada kejujuran di bumi ini. Kejahatan dan keburukan pasti juga ada karena ini dunia manusia.

Posted by: tanagekeo | February 5, 2010

MAKAM ORANG NAGEKEO

Ketika ayah kami sakit semua kami lima bersaudara dari enam anaknya yang berada di Jakarta kembali ke kampung. Walau orang tua kami masih hidup, kami memikirkan dimana letak makamnya. Seorang adik saya  Anton, yang tinggal di kampung menginginkan makam dibuat di depan rumahnya di sebuah lahan kami  di luar kampung. Dia tidak ingin bapa sendirian.  Saya dengan salah satu adik saya Hubert yang sudah mulai tambun berjalan sambil ngos-ngosan kehabisan napas ketika kami menapak menuju tempat yang ditunjuk Anton. Kami tidak setuju. Lalu kami memeriksa tempat di kebun kami di belakang gua Maria. Itu tempat yang diminta bapa sejak dia masih sehat ketika berkunjung ke Jakarta. Dan ketika bapa meninggal kami harus melewati kebun jagung, di sana bapa di makamkan. Begitu pacul menancap tanah (neka tanah) di tempat yang ditunjuk saya, aba-aba diberikan ke kampung dan seekor kerbau segera  disembelih.  Bapa mungkin orang pertama yang dikuburkan di luar kampung.

 Berjalan di tengah kampung orang Nagekeo bagaikan berziarah ke pekuburan. Mengapa tidak? Setiap keluarga memakamkan anggota keluarga, teristimewa orang tua di halaman rumah. Ini merupakana tanda penghormatan. Selainya itu ada kepercayaan kematian badani tidak memisahkan anggota keluarga dengan arwah yang sudah meninggal. Seperti kata adik kami Anton:” Saya tidak mau bapa sendirian.” Memasuki kampung-kampung di Nagekeo benar mengunjungi kuburan. Kini makam-makam diberi keramik bahkan ada yang buat bangunan rumah kecil. Pada malam hari orang kampung kami sering membakar lilin di makam anggota keluarga setiap kali ingin mohon restu. Pada saat itu kita bisa menyakiskan lilin-lilin bernyala, bagi yang tak punya nyali bisa terbangun bulu kuduk melintasi kampung di malam hari.

 Suatu saat ketika di kampung saya diundang untuk mendoakan seorang yang telah meninggal. Seorang wanita, ternyata itu kakak kandung ibu saya, yang telah meninggal lebih dari 60 tahun lalu. Acaranya adalah “langga late”. Langga artinya menggiring atau memindahkan. Late artinya kubur. Memindahkan kubur seorang yang telah meninggal. Tanta meninggal dan dimakamkan di luar kampung di salah satu lahan keluarga. Pada saat itu tanta belum masuk orang yang dituakan. Tetapi setelah enam puluh tahun lebih anaknya Raphael Siga ingin menyatukan makan. Dan secara simbolis mengambil tanah galian dari makam dan dibangun sebuah makam baru di depan rumah tinggal. Dan kini makam tanta dibangun berdampingan dengan makam suaminya.

 Kemajuan telah merobah bentuk bangunan makam. Kalau jaman dulu hanya ditempatkan sebuah batu oval sebagai tempat persembahan, kini makam dengan salib dan berbagai ornament bagi yang Kristen, sementara bagi yang Muslim diberi tiang kecil menjulang keatas. Ketika makam masih hanya diletakkan sebuah batu di atasnya, atau terkadang batu pipih lebar ditunjang kaki dari batu  pekarangan rumah terasa luas. Tetapi ketika dibangun dari semen, makam menjadi sangat menonjol dan menyita ruang terbuka.  Ada kesan semerawut dan angker.Liang lahat kini sudah berubah. Kalau dulu orang hanya sekedar menggali makam dan jenazah dimakamkan di tanah, kini jenazah dimakamkan dalam lubang yang telah dipasang bata dan di beri semen halus.

Posted by: tanagekeo | February 2, 2010

Kowa Peti Jenazah Orang Nagekeo

Setahun  lalu tepatnya tanggal 15 Januari 2009 ayah kami meningggal dalam usia tua setalah lama sakit dan buta kemudian meninggal dunia di Mauromba. Malam itu saya sedang berada di kota dingin Ruteng.  Saya membaca  berita itu dari SMS dalam telepon genggam yang tertinggal dalam mobil. Saya segera bergegas kembali ke kampung. Sambil menahan rasa duka saya terus ke Bajawa untuk memesan peti jenazah. Peti jenazah di Bajawa terbuat dari kayu pohon randu.  Ketika pertama kali saya melihat peti jenazah , ada rasa penolakan karena terlalu lapuk bagaikan kayu sampahan. Tetapi pemilik usaha peti jenazah mengatakan bahwa masih ada yang lain. Saya melihat agak mulus. Ternyata peti jenazah di Bajawa menggunakan bahan dasar pokok randu kemudian dilapisi triplek mengkilat. Tidak ada pilihan. Peti diangkut dengan mobil truck angkutan orang (bis kayu). Peti ditutup terpal dan ditaruh di atas atap. Dua jam perjalanan menuju Mauromba. Saya teruskan perjalanan menuju rumah duka dengan kendaraan pribadi. Setelah dilapisi bagian dalam dengan kain putih dan dihiasi jenazah almarhum ayah ditempatkan dalam peti jenazah. Betapa pun sederhana tetapi itu yang terbaik.

 Dalam budaya orang Keo atau Nagekeo umumnya jenazah hanya dibungkus kain kapan  dan ditempatkan diatas tikar. Kemudian sebagai tanda hormat orang menutupinya dengan  ragi kain tenun tradisional. Jenazah akan dihantar kepemakaman menggunakan saga (keranda bambu) yang dibuat untuk sekali pakai. Keranda selalu dibuat dari pohon bambu yang baru dipotong. Saya masih ingat pada masa kecil, kami sangat takut melihat saga (keranda jenazah) yang dibuang di semak pandan di pinggir pantai. Kami menghindari berjalan sendiri apalagi berenang dekat tempat pembuangan keranda.

 Pada masa lalu tidak semua orang menggunakan peti jenazah. Yang dimakamkan dengan peti jenazah hanya orang yang terhormat dan mampu. Peti jenazah orang Nagekeo disebut kowa (perahu). Peti jenazah dibuat dari batang pohon yang utuh kemudian di pahat, dibuat lubang untuk tempat pembaringan jenazah kemudian diberi tutup dengan bahan kayu pohon yang sama. Kowa dibuat seketika setelah orang meninggal dunia. Dalam adat Nagekeo tidak boleh menyiapkan peti jenazah sebelum kematian tiba.  Bentuknya menyerupai sampan  atau perahu yang dalam bahasa daerah disebut kowa. Jenazah ditempatkan dalam kowa biasanya lebih dari dua hari sebelum dimakamkan. Hari-hari duka menjadi seperti pesta besar. Kampung penuh dengan manusia, dan semuanya harus diberi makan. Kedukaan tidak hanya  milik keluarga sendiri tetapi menjadi kedukaan orang sekampung. Semuanya berpartisipasi untuk melayani tamu, yang datang dari jauh.

 Kowa hanya digunakan untuk mosadaki pu’u( tetua adat). Tetapi kini kata kowa sudah tidak pernah lagi dibicarakan orang. Karena kini orang menggunakan peti jenazah yang dibuat oleh tukang kampung pada saat kematian. Hampir semua orang menggunakan peti jenazah kecuali saudara saudara yang beragama Islam hanya dibungkus dengan kain kapan. Walau pun berasal dari masyarakat adat setempat, jenazah yang beragama Islam tetap dimakamkan segera . Beda dengan warga  lainnya, yang  selalu menunggu sampai semua anggota keluarga dekat datang berkumpul. Terkadang sampai ada aroma tak sedap disekitar jenazah.

Older Posts »

Categories